Mencetak Mimipi
MENCETAK MIMPI JADI KENYATAAN
Oleh : Risyanto Aris (Lifeskill Motivator)
Anda pernah menyaksikan film ‘Around The World in 80 days’ yang dibintangi aktor kawakan Jackie Chan dan Steeve Coogan? Film yang diangkat dari novel klasik Jules Verne itu menceritakan tentang obsesi dan mimpi ‘gila’ seorang professor muda bernama Phileas Fogg yang hidup di abad 19. Rumah tinggalnya yang disulap menjadi laboratorium raksasa membuat dirinya dikucilkan oleh seluruh rakyat Inggris, terlebih kalangan kerajaan dan bangsawan.
Ide-idenya yang dianggap ‘konyol’, oleh sebagian kalangan pejabat kala itu dijadikan bahan ejekan. Hingga kehadiran Passepartout yang diperankan Jackie tanpa sengaja menjadi titik awal perlawanan ‘mimpinya’ dengan pejabat pemerintah kerajaan. Temuan-temuannya yang selama ini hanya tersimpan di laboratoium tuanya mulai diketahui publik. Meskipun publik saat itu masih mengacuhkan temuan Phileas seperti sepatu roda dan aplikasi mesin uap serta pembuktian bahwa manusia dapat melewati gerak kecepatan hingga 60 mil/jam tanpa mengalami gangguan sistem organ tubuh.
Salah satu mimpi besarnya yang saat itu dianggap ’sinting’ adalah tentang ‘manusia terbang’. Manusia yang dengan bantuan teknologi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan udara sebagai jalur transportasi. Hingga pada suatu pertemuan ilmiah dengan klubnya di kementrian teknologi kerajaan, Phileas ditantang sang menteri untuk melakukan perjalanan ‘mustahil’ mengelilingi dunia yang harus ditempuh hanya dalam waktu 80 hari saja. Tempo yang tidak masuk akal di abad itu.
Tantangan dipenuhi oleh ilmuwan muda tersebut. Dengan bekal keyakinannya yang kuat dan dukungan penuh dari Passepartout, perjalanan itu pun akhirnya dimulai. Meski Passepartout memiliki misi tersendiri, namun perjalanannya bersama Phileas memunculkan petualangan menarik dan menegangkan. Singkat cerita, segmen terakhir dari perjalanannya Phileas, Passepartout dan gadis cantik kekasih Phileas, terancam tidak dapat sampai di London tepat waktu. Mereka berada di tengah lautan dimana mereka menumpang sebuah kapal layar yang kehabisan bahan bakar. Kondisinya pun makin terjepit.
Di langit lepas terbang beberapa burung elang yang mengepakkan sayap dengan tenang. Phileas memperhatikan dengan seksama. Inspirasinya muncul untuk mewujudkan ‘manusia terbang’ terbang sesuai dengan beberapa teori yang pernah dirancangnya dan teori tambahan yang didapatkan dari ilmuwan kembar yang ditemuinya dalam segmen perjalanan sebelumnya. Setelah kapten kapal yang ditumpanginya mengizinkan beberapa bagian kapal dipotong-potong untuk pembuatan ‘pesawat terbang’, maka dimulailah proyek tersebut. Alhasil, jadilah pesawat tersebut dan terbanglah ketiganya menuju London.
Masyarakat London ternganga menyaksikan ‘pesawat’ atau lebih tepat ‘layang-layang besar’ terbang cepat di angkasa. Saat benda besar itu mendarat tepat ditengah kerumunan, baru lah mereka menyadari bahwa Phileas si pemimpi gila telah berhasil membuktikan impiannya. Bahkan mimpi gilanya yang lain juga berhasil ditaklukan. Mengelilingi dunia dalam waktu 80 hari.
Kisah diatas memang hanyalah cerita dalam sebuah film. Namun, jika kita ambil pelajaran ilmiahnya maka cerita tersebut menggambarkan betapa se-’mustahil’ apa pun mimpi yang kita rancang hari ini adalah sebuah keniscayaan di masa yang akan datang. Bahkan kisah di atas tidaklah se-dahsyat kenyataan kehidupan kita yang sesungguhnya karena dunia nyata manusia telah mencapai tangga yang luar biasa. Dimana hari ini manusia memiliki tidak sekedar ‘layang-layang raksasa’ tetapi pesawat-pesawat supercepat yang kecepatanya mendekati kecepatan cahaya. Oleh karena itu, kita memahami bahwa kemajuan peradaban kita hari ini adalah ‘kemustahilan’ di masa lalu. Demikian pelik dan penuh tantangan untuk mewujudkannya.
Mari mengambil pelajaran dari sekeliling kita. Cicak salah satunya, adalah binatang mungil yang dapat memberi hikmah yang sungguh luar biasa. Cicak merupakan salah satu jenis reptilia yang hidupnya merayap di atap atau dinding rumah dan batang pepohonan.
Ada satu hal istimewa pada cicak yang dapat kita petik pelajarannya. Sebagaimana diketahui bahwa santapan cicak adalah berupa serangga-serangga kecil yang cara hidupnya terbang dari satu tempat ke tempat lain, seperti nyamuk. Akan tetapi, pernahkan ditemui ada seekor cicak yang mati mengenaskan gara-gara kelaparan tidak mampu menangkap mangsanya? Yakin saja bahwa hal itu tak pernah terjadi. Padahal secara logika adalah hal yang tak mungkin seekor cicak yang hidup dengan cara ‘melekat’ pada sebuah dinding atau bidang harus memangsa hewan-hewan kecil yang jago terbang.
Kisah cicak ini selaras dengan alur cerita film Around The World in 80 days di atas. Manusia yang memiliki bekal ‘kesempurnaan’ sudah seharusnya lebih cerdas dalam mengejar mimpinya. Lebih ulet meniti tangganya dan lebih kuat menerjang batu penghalang demi mewujudkan impiannya. Seekor cicak tidaklah mungkin punya mimpi, akan tetapi kesulitan yang dihadapinya sudah menjadi rintangan alamiah yang harus dilalui untuk bertahan hidup.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita? Mencetak impian menjadi kenyataan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Juga butuh waktu yang tidak sekejap. Dan semuanya harus diperjuangkan untuk meraihnya. Sebab, tidak akan terasa manis secangkir teh yang hanya berasal dari teh saja, kecuali jika kita menuangkan beberapa sendok gula kemudian menyeduhnya. Artinya adalah, bahwa tanpa upaya dan kerja keras maka mimpi-mimpi itu hanya akan tinggal sekedar impian tanpa kenyataan.
Cerdas Mencari Jalan
Impian kesuksesan ibarat memimpikan pulau yang indah di seberang lautan. Keindahannya di pelupuk mata namun sulit untuk menggapainya. Apalagi dengan segudang keterbatasan yang menghantui fikiran kita. Jika sudah diketahui bahwa satu-satunya jalan mencapai pulau tersebut hanyalah dengan menyeberangi lautan, maka jangan sekali-kali Anda justru lari menuju puncak gunung menjauhi bibir pantai. Karena Anda tidak akan mungkin berjalan mendekati impian Anda.
Merenunglah sejenak dan cobalah untuk mengevaluasi, apakah tempat Anda berpijak berada di atas jalan menuju impian? Jika benar, maka teruslah melangkah meski sedikit demi sedikit. Namun jika ternyata Anda berpijak di luar jalan yang akan mengantarkan menuju impian, maka segeralah rubah pijakan Anda. Berpindahlah ke gerbong atau kereta lain yang tepat sesuai arah yang hendak dituju. Jangan manjakan rasa bimbang dan khawatir, karena kebimbangan dan kekhawatiran yang menjadi-jadi hanya akan menjegal langkah Anda. Berputar haluan dengan yakin dan langkah yang benar adalah kunci awal kesuksesan menggapai impian.
Jangan Pernah Melewatkan Kesempatan
Kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan peluang yang menghampiri kita. Dan peluang itu akan datang dari berbagai penjuru yang terkadang tidak kita sangka-sangka. Baik disebabkan karena buah kerja kita ataupun yang benar-benar tak terduga.
Jika kita telah merasa letih dan lapar, sedang peluh pun semakin membanjir, tidak ada ruginya kita mampir ke warung makan dipinggiran jalan. Kita harus mengisi bahan bakar dan memulihkan tenaga. Jangan sampai memaksakan diri karena justru dapat mengakibatkan kita celaka dan putus ditengah jalan. Bukankah di kantong kita masih ada perbekalan yang belum dimanfaatkan? Jangan pelit membelanjakan bekal untuk menguatkan diri menempuh perjalanan.
Apabila kita menyadari kekurangan diri, maka jangan pernah merasa sayang untuk membelanjakan bekal demi mengenyahkan keterbatasan-keterbatasan. Jika memang harus melalui pelatihan dan ujian yang menyedot bekal. Yang terpenting adalah kita paham kapan kita harus mengambil keputusan. Sehingga peluang-peluang untuk ‘menyempurnakan’ diri adalah bagian tak terpisahkan dari kesempatan yang harus kita jajaki.
Kita perlu menyadari, bahwa disekeliling kita begitu banyak orang-orang yang telah berhasil meraih mimpinya. Dan bisa jadi impian kita saat ini adalah impian-impian ‘usang’ yang pernah dilewati orang-orang tersebut dimasa yang telah terlewat cukup lama. Seandainya, dalam perjalanan langkah kaki kita ada orang yang berbaik hati menawarkan tumpangan maka jangan pernah sekalipun kita melepaskan peluang itu. Meski mungkin tumpangan tersebut tidak persis melewati tujuan kita, maka tidak ada salahnya memanfaatkannya sekedar untuk mendekatkan posisi kita ke pulau impian.
Berani Mencoba Meskipun harus Gagal
Tidak jarang saat kita sedang duduk santai, tiba-tiba seekor cicak jatuh dari langit-langit ataupun dinding. Dan kita pun tidak jarang melihat seekor cicak yang berlari kehilangan ujung ekornya.
Begitulah. Mengejar impian mesti dilengkapi dengan keberanian mencoba dan tidak takut mengalami kekagalan. Jika luka-luka pengorbanan yang kita alami membuat diri kita tahu cara mengobatinya, maka tidak alasan untuk menjadi pengecut dan pecundang. Jika kegagalan kita membuka mata untuk lebih jelas melihat jalan dan cara menuju sukses, maka tidak ada tempat untuk menjadi seorang penakut.
Tidak ada seorang pun yang sukses tak pernah mengalami kegagalan. Karena kegagalan sering kali menjadi sebab seseorang menjadi lebih pintar dan sukses.
Berjuang dengan Kawan yang Tepat
Hidup kita tidaklah sendirian. Ada banyak orang disekeliling kita yang sejalan dengan langkah kita. Atau minimal ada kawan-kawan yang selalu senag hati membantu kita. Kisah Phileas, Passepartout, dan kekasih Phileas sedikit memberi ilustrasi betapa orang pentingnya keberadaan orang-orang di sekeliling kita. Orang-orang yang selalu siap memberi dukungan dan semangat di kala letih dan semangat.
Terlebih jika mereka adalah orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan dengan kita. Tentu bahu-membahu adalah menjadi pilihan yang sangat tepat. Dan jangan sampai kita merasa sendirian ditengah-tengah kerumunan orang yang senang hati bergandengan tangan dengan kita menuju pulau impian.
Tergantung pada diri kita, mau dan tidak untuk mencetak impian. Dan cepat atau pun lambatnya juga kita sendiri yang memutuskan. Mulailah dan jangan berbalik ke belakang. Jangan setengah hati dan teruslah melangkah menuju pulau impian.