Sudut Rutinitas
SUDUT PANDANG TENTANG RUTINITAS
By. Risyanto Aris (Life Skill Motivator)
Sebagian besar orang beranggapan bahwa rutinitas merupakan penyebab kejenuhan, penyebab menurunnya spirit, penyebab kebosanan, atau penyebab-penyebab lain yang bermuara kepada sesuatu yang negatif. Dimana pada akhirnya rutinitas akan menggiring pelakunya kepada situasi ke-tidak-produktif-an.
Asumsi ini bisa jadi benar, tetapi juga bisa jadi tidak benar. Mengapa? Seorang pekerja sebuah perusahaan yang telah menjalani masa kerja selama 20 tahun umumnya berbeda spirit dengan pekerja yang baru 3 atau 5 tahun. Kualitas kerja di lapangan pun akan tampak berbeda, pekerja yang jauh lebih lama bekerja besar kemungkinan melakukan pekerjaannya dengan agak ‘ogah-ogahan’ karena kejenuhan yang tak tertahankan. Sehingga dikatakan bahwa rutinitas yang demikian lama akan menjadi penyebab utama timbulnya ke-tidak-produktif-an.
Mari kita belajar dari alam semesta beserta segala isinya. Perhatikan bagaimana bumi berotasi mengelilingi matahari. Dimana dalam bahasa awam kita, setiap pagi matahari akan terbit diufuk timur dan kemudian tenggelam di ufuk barat sore harinya. Hal ini berlangsung sekian lama semenjak tata surya ini ada hingga waktu yang tak pernah kita tahu kapan akan berakhir. Lalu bagaimana seandainya sekali waktu matahari terbit dari ufuk timur dan kembali tenggelam di ufuk timur juga? Atau jika matahari terbit dari barat dan tenggelam di sebelah selatan?
Di bagian dua polar bumi, baik kutub utara maupun selatan, terdapat kawanan burung yang setiap setengah tahun sekali melakukan perjalanan panjang dari kutub utara menuju kutub selatan atau sebaliknya. padahal yang harus mereka lalui adalah jarak ribuan kilometer dan samudera yang demikian luas. Perjalanan itu dilakukan hanya untuk menghindari musim dingin yang mencekam dan menuju kutub lain yang berhawa hangat karena musim panas. Demi bertahan hidup. Lalu pertanyaannya, mengapa burung-burung itu tidak singgah saja di daratan tropis, berdiam disana dan menjalani hidup baru? Sehingga tidak perlu lagi secara rutin melintasi daratan dan lautan ribuan kilometer dari utara ke selatan ataupun sebaliknya?
Diri kita pun bisa menjadi pelajaran yang baik dalam hal ini. Dua hal yang tidak pernah kita tinggalkan dan kita pun melakukannya dengan senang hati adalah tentang tidur dan makan-minum. Sejak pertama kali kelahiran kita di muka bumi ini, manusia tidak pernah merasa bosan melakukan dua aktivitas ini. Bahkan banyak hal yang rela dikorbankan demi tidur dan makan-minum. Jika saja 2 pekan seseorang tidak melakukan tidur ataupun makan dan minum, maka sudah dipastikan apa yang akan terjadi.
Jika melihat beberapa contoh diatas, maka sepertinya rutinitas justru menjadi sebuah keharusan. Sebab, jika rutinitas terganggu dan terjadi penyimpangan maka akan menjurus kepada kerusakan bahkan kehancuran. Oleh karena itu, agar kita bisa mengambil sikap yang tepat terkait rutinitas, kita harus memiliki cara pandang yang benar tentang rutinitas. Berikut ini adalah cara pandang yang tepat tentang sebuah rutinitas,
1. Rutinitas sebagai sebuah kebutuhan
Sebagaimana kita membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup sekaligus untuk melanjutkan kehidupan. Melakukan beragam pekerjaan dengan stamina yang fit untuk meraih kesuksesan demi kesukssan. Juga seperti kebutuhan kita tentang tidur, mengistirahatkan sendi-sendi, mengumpulkan energi dan menghilangkan keruwetan otak yang demikian penat.
Bukankah sama halnya kita butuh terus mengais rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Demikian juga dengan butuhnya kita terhadap kehadiran para pegawai kita untuk mengerjakan siklus bisnis yang kita jalankan. Ini pula yang dilakukan para sopir angkot atau metromini yang mesti bolak-balik melalui jalan yang sama setiap hari demi mendapatkan uang.
2. Rutinitas sebagai alat mencapai tujuan
Apa yang membuat kita rela mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak dari usia dini hingga perguruan tinggi? Bukan waktu yang tidak sebentar menghitung usia belajar mulai dari palygroup hingga selesai kuliah. Paling tidak antara 16 - 23 tahun. Bayangkan! Itu pun pernah kita jalani. Meski rasa malas dan jenuh berseliweran terlintas di benak kita, tetapi ada satu tujuan besar yang membuat kita semangat dan terus bertahan.
3. Rutinitas sebagai sarana pematangan
Seorang calon pemimpin baik di sebuah perusahaan maupun suatu organisasi, sering kali diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat secara rutin oleh atasan atau seniornya. Untuk menguji ketahanan dan kemampuannya mengelola keadaan. Tidaklah mungkin seseorang yang piawai dibidang tertentu muncul begitu saja sekonyong-konyong tanpa melalui terlebih dahulu proses yang panjang. Peneliti, profesor, dokter, dan profesi apapun tidak akan mencapai tingkat kematangan atau keahlian tanpa proses rutin yang harus dijalaninya.
4. Rutinitas sebagai sarana optimalisasi
Seorang Ronaldo, atau Ronaldhino adalah para pemain terbaik yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya ‘mengocek’ bola dan mencetak gol. Demikian juga Beckham dan Zidane. Akan tetapi, kenapa para pelatih dan pemain bola tidak pernah berhanti berlatih untuk menghadapi pertandingan-pertandingan? Bukankah mereka para pemain bola tersohor?
Jawabannya adalah bahwa rutinitas latihan yang mereka lakukan adalah dalam rangka mengoptimalkan potensi dan keahlian agar dapat melakukan yang terbaik dalam sebuah pekerjaan besar.
Ternyata tidak sepenuhnya benar jika rutinitas adalah penyebab utama ketidak-produktifan, bahkan jika ditelaah lebih mendalam, ada kekuatan besar dibalik rutinitas. Rutinitas salah satu syarat meraih kesuksesan.
Lalu bagaimana mengelola rutinitas? Nantikan kajian berikutnya.
Kamis, 15 Februari 2007