Menjadi Lumut
TIDAK SEKEDAR SUKSES SEBATANG KARA
Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)
Perhatikan disekeliling kita. Jika diminta untuk menyebutkan satu per satu benda apa saja yang kita lihat, maka akan berderet daftar sebutan benda tersebut. Dari mulai bangunan rumah, jalan aspal, bebatuan dipinggir jalan, abang penjual sayur, atau tanaman hias dan indah serta pepohonan yang rindang.
Apakah dihalaman rumah Anda tertanam pohon mangga? Atau pohon rambutan? Atau pohon yang lainnya? Apakah Anda menanamnya sejak pohon itu masih kecil, atau bahkan saat pohon-pohon tersebut masih berbentuk biji? lalu bagaimana mereka tumbuh dan berkembang? Apa yang Anda lakukan agar mereka tumbuh dengan dengan baik?
Pertanyaan beruntun ini belum juga selesai, masih ada pertanyaan lanjutan untuk menjelaskan tentang satu perkara besar yang sangat penting bagi kita. Pertanyaan selanjutnya, apa yang terjadi seandainya biji pohon itu anda biarkan teronggok diatas halaman yang dicor atau permanen? Atau jika biji itu Anda lempar ditengah jalan aspal. Apakah masih tetap akan hidup dan tumbuh?
Pertanyaan yang lebih ekstrim diantaranya ialah, seandainya pun biji itu sudah tumbuh menjadi pohon, apakah dia bisa bertahan hidup jika ditempatkan dipuncak pegunungan, atau didalam gua, diatas bebatuan cadas, atau mungkin di dalam lautan? Atau minimal ditanah yang gersang dan sedikit meminum air?
Secara sederhana kita bisa memberi konklusi atau simpulan bahwa pohon-pohon itu cepat atau lambat akan mati. Sebab mereka tidak hanya sekedar membutuhkan air atau sinar matahari yang cukup, tetapi mereka juga membutuhkan tempat hidup yang subur dan kondusif. Sehingga jika tempat hidup menjadi tidak sesuai lagi, maka layu dan kemudian mati tinggal menunggu waktu saja.
Sekarang, kita masuk pada segmen pembahasan yang kedua. Yaitu tentang lumut. Dimana lumut juga termasuk salah satu keluarga tumbuhan, meski dari ratusan spesiesnya, hampir tidak ada yang melebihi ketinggian 10 cm.
Ada beberapa hal yang menjadi faktor penting kenapa kita mesti membahas lumut setelah menguraikan tentang ‘pohon mangga’. Meski lumut memiliki bentuk tubuh yang kecil dan tak ’segagah’ pepohonan yang berada diatas ‘kelas’nya, tetapi dalam proses kehidupan lumut menjadi satu faktor penentu yang sangat signifikan. Apakah kita memperhatikan bahwa tumbuhan sederhana ini merupakan ‘cikal-bakal’ kehidupan? Silahkan buka kembali pelajaran biologi kita di sekolah dulu.
Beberapa ciri penting yang dimiliki lumut adalah, bahwa ia dapat hidup dan berkembang dimana-mana. Mulai dari pegunungan yang dingin, sungai yang berkelok, dinding yang permanen, lantai yang berkeramik, atau dalam lautan yang dalam. Bahkan sekeras apapun bebatuan, lumut bisa hidup dan tumbuh diatasnya.
Yang kedua, dengan kondisi sesulit apa pun lumut masih mampu bertahan. Dari mulai kekurangan sinar matahari, kekurangan air, atau pun kekurangan ‘nutrisi’. Hingga dinding-dinding kamar mandi rumah kita yang terlapis keramik saja masih bisa ditumbuhi lumut.
Ketiga adalah, proses hidup lumut memberikan dampak besar bagi kehidupan yang lain. Bumi yang kita diami ini adalah sebuah bebatuan super keras yang pejal diawal pembentukannya. Kemudian lumut yang mendiaminya, meremuknya, dan menjadikannya subur yang pada akhirnya tumbuh pepohonan dan makhluk hidup lainnya.
Paling tidak, tiga hal mendasar inilah yang perlu dijadikan pelajaran bagi kita. Bahwa dalam hidup ini kita perlu cerdas beradaptasi dengan beragam ekosistem kehidupan kita. Karena seringkali kita dituntut untuk melalui ekosistem demi ekosistem yang demikian beragam dan kontras dalam proses hidup ini. Terkadang hal ini disebabkan oleh siklus yang kita rancang atau kesulitan kondisi yang menjepit.
Berikutnya, kita mesti menjadi sosok yang mampu survive dengan segala keterbatasan. Karena lingkungan hidup kita tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, baik karena tidak mampu mendapatkannya atau karena ketiadaan apa yang diinginkan.
Dan, dalam hidup ini mestinya kita bisa menjadi manusia yang mampu menebar manfaat bagi orang lain. Karena kesulitan apa pun yang kita hadapi sekali waktu orang lain juga mengalaminya. Bahkan tidak sedikit yang jauh lebih buruk dari kita. Atau keberhasilan yang kita peroleh, akan lebih bernilai jika itu menjadi faktor penyebab keberhasilan bagi orang lain. Bukankah menjadi satu kepuasan jiwa jika banyak orang lain sukses lantaran peran kita? Karena keberhasilan ‘bersama’ akan lebih indah dibanding keberhasilan sebatang kara.
Rabu, 31 Januari 2007