Melangkah Mundur
SEKALI WAKTU KITA HARUS MELANGKAH MUNDUR
Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)
Apabila berada di dalam sebuah ruangan besar, cobalah untuk berdiri merapat ke tembok. Pastikan wajah kita mengarah dinding dan punggung menghadap ke arah luas ruangan. Cobalah mulai mengayun tangan dan melangkahkan kaki ke depan. Apa yang akan terjadi? Atau dengan gerakan yang lebih tertata kita perlu pelan-pelan menempelkan tubuh ke dinding dan cobalah untuk bergerak ke arah depan. Apa yang akan terjadi? Perhatikan pula pandangan kita. Apa saja yang bisa kita kenali atau dapat terlihat?
Jawaban dari beberapa simulasi diatas adalah, ketika kita mencoba berjalan ‘menembus’ dinding yang terjadi adalah bahwa kita tidak mampu bergerak lebih maju ke depan, apalagi untuk sampai menembus dinding. Ayunan tangan dan gerak langkah kaki kita pun menjadi terhambat dan terbatas, dan cenderung tidak memberi fungsi sedikit pun.
Atau jika kita menempelkan tubuh pada dinding dan kita coba bergerak mendorong dinding, yang terjadi justru seolah dinding lah yang mendorong kita. Maka jika tidak siap, bisa jadi diri kita sendiri yang akan terpental dan jatuh terjengkang. Demikian pula dengan jangkauan pandang kita, mungkin hanya warna tembok saja yang bisa terpampang di pelupuk mata. Kita tidak bisa menentukan pilihan karena segala sesuatunya terkesan sewarna dan monoton, apalagi jika kita semakin merapat ke dinding, maka pandangan mata kita menjadi semakin samar dan bias. Menyedihkan. Kondisi itu lah yang sering kita sebut sebagai ‘dead lock’, buntu atau ‘mentok’.
Begitu juga warna kehidupan kita, tidak jarang kita menghadapi kondisi sulit semacam itu. Dimana seolah kita tidak mungkin bisa melangkah maju lagi, atau sekedar untuk mencari jalan keluar. Sedangkan waktu itu adalah kondisi terburuk yang tidak pernah kita inginkan. Maka yang muncul kemudian adalah sikap nervous, tegang, marah, kesal, bahkan putus asa. Seandainya kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama maka bisa jadi kita akan menjadi ‘lumpuh’ dan tak mampu bangkit kembali.
Bukankah korelasi contoh diatas terkadang kita alami dalam proses kehidupan setiap manusia? Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana bisa bersikap cerdas memandang setiap kesulitan yang mencoba menghadang kita. Sehingga langkah solusi yang menjadi pilihan kemudian adalah solusi yang benar-benar cepat dan tepat, bukan sebaliknya hanya jalan keluar semu yang terkadang justru menghancurkan.
Cobalah sesekali kita amati sebuah mobil yang sedang hendak keluar dari lokasi parkiran. Tidak jarang di depan dan kanan-kiri mobil tersebut juga berderet mobil-mobil lain yang jika tidak hati-hati pasti akan merusaknya. Dan resiko yang harus kita tanggung dari kecerobohan kita barang tentu tidak lah murah. Maka apa yang dilakukan oleh pengemudi mobil untuk keluar dari jepitan tempat parkir yang sempit? Hal umum yang dilakukannya adalah mulai menjalankan mobilnya dengan mundur perlahan-lahan. Mengatur posisi, arah dan mengukur peluang jangkauan mobil agar jika sudah saatnya maka mobil bisa sedikit berkelok dan kemudian meluncur maju.
Bukankah tidak jauh berbeda dengan kondisi sulit yang terkadang menghampiri kita. Berfikirlah bahwa kita tidak perlu terburu-buru melangkah maju menabrak dinding, tetapi melangkahlah mundur secara perlahan-lahan. Dan amati apa yang mampu kita pandang di hadapan kita. Yakinilah bahwa saat kita mulai melangkahkan kaki bergerak mundur, mulai bisa kita lihat bahwa di bagian lain dari dinding itu tergantung sebuah lukisan pemandangan alam yang sejuk. Kita juga bisa melihat di sisi yang lain ada jam dinding yang jarumnya bergerak teratur. Atau disudut ruangan terdapat meja kecil dengan sebuah vas bunga dan lampu hias yang cantik. Di bagian lantai kita lihat karpet dan permadani yang indah dan lembut. Disamping itu, kita bisa melihat pada salah satu sisi ruangan tertata sofa berwarna krem yang empuk dan megah. Atau dibagian dinding sisi lainnya kita bisa melihat beberapa buah karya lukisan siluet yang memiliki nilai seni tinggi. Bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan melihat sebuah jendela dengan sudut pandangnya yang demikian luas untuk melihat dunia luar. Dan pasti kita juga akan dapati pintu ruangan yang berfungsi sebagai jalur keluar masuk ke ruangan tersebut.
Dari situ lah kemudian kita mengetahui bahwa di depan kita tidak hanya terdapat dinding pejal yang mustahil untuk kita tembus. Dan kita juga jadi mengerti bahwa ruangan itu bukan lah ruangan samar yang monoton dan menyebalkan, tetapi sebuah ruangan yang nyaman penuh dengan asesori ornament. Dan yang terpenting adalah bahwa di bagian sisinya, ruangan tersebut memiliki ‘jalan keluar’ menuju tujuan yang kita inginkan.
Maka, tidak ada ruginya sesekali kita melangkah mundur sejenak. Mengatur siasat dan stragtegi, mengambil nafas dan melakukan pertimbangan matang untuk kemudian meluncur maju menuju tujuan yang ingin kita capai. Karena dunia ini demikian luas, dan selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan hidup yang kita hadapi. Yakinlah!
Selasa, 30 Januari 2007