MIND of Motivator

February 16, 2007

Mengelola Rutinitas

Filed under: Uncategorized

MENGELOLA RUTINITAS MENJADI POTENSI KESUKSESAN

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 

Rutinitas tidaklah sama persis dengan ketekunan, tetapi rutinitas tidak juga sama dengan monoton. Pada hakekatnya rutinitas adalah sebuah aktivitas yang dilakukan berulangkali dalam tempo yang cukup panjang. Rutinitas acapkali menjadi momok yang seolah tidak dapat kita hindari dan terpecahkan, karenanya mesti diarahkan agar dapat menjadi sebuah potensi besar untuk menata kesuksesan.

Rutinitas harus dipahami sebagai suatu proses yang tidak mungkin ditinggalkan. Sebab rutinitas sebenarnya adalah rangkaian kebutuhan, kepentingan, sarana pematangan dan jalan optimalisasi kemampuan untuk meraih apa saja yang kita inginkan. Sehinggaa,rutinitas harus dijadikan sebagai sebuah tantangan yang harus kita kendalikan. Oleh karena itu, bagaimana langkah kita mengelola rutinitas agar menjadi sebuah potensi besar untuk meraih tangga kesuksesan? Berikut ini adalah beberapa tips yang tepat untuk dijalankan:

1. Menentukan target akhir 

Baik perorangan maupun kelompok, dalam kehidupan ini harus memiliki tujuan akhir yang besar. Tujuan yang membuat tiap orang memiliki ‘nafsu’ untuk tetap hidup dan berkembang, memiliki motivasi yang menjadikannya siap berjibaku dengan rintangan, dan memiliki spirit untuk mendobrak kepenatan serta gejala keputusasaan.

Sebuah teori mengatakan ‘thinking begin in the end’ atau berfikirlah mulai dari titik akhir, maka Anda sedang melangkah di jalan yang tepat. Dalam sebuah perjalanan jauh, sangat berbeda antara orang yang sudah punya tujuan akhir kepergiannya "Saya akan pergi ke Danau Toba di Medan" dibandingkan dengan orang yang baru sampai pada "Saya akan melakukan perjalanan jauh".

Bagi orang yang sudah menetapkan tujuan akhir meski berbagai rintangan menghadang di tengah jalan, maka instingnya akan terus mendorong untuk menemukan jalan keluar. Ketika hujan, akan sedia payung. Atau seandainya jembatan yang harus dilaluinya putus, maka akan berbelok mencari jalan alternatif. Atau seandainya tersesat, dia akan terus mencari jalan menuju tempat yang dituju. Dan dirinya tidak bosan-bosan duduk lama di depan kemudi menarik gas, menginjak rem dan memutar stir kekanan dan kekiri.

Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki tujuan, maka sedikit kerikil saja akan membuat dirinya mengurungkan niat melangkah maju. 

2. Menbuat schedule dengan target-target antara

Coba bayangkan seandainya Anda mencukupkan diri duduk termangu di atas kursi menunggu sore hari. Kemudian Anda juga melakukan hal yang sama untuk menanti pagi hari, sementara hari pernikahan Anda masih 3 pekan lagi? Sedangkan Anda sedikitpun tidak melakukan tindakan yang berarti. Padahal Anda juga belum melakukan persiapan apa pun. Tentu hari yang dinanti-nanti hanya akan menjadi mimpi buruk yang tak pernah dapat Anda maafkan.

Naluri alamiah kita sudah memberikan tuntunan, bahwa banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyongsong hari pernikahan yang sukses dan bersejarah. Ada undangan yang harus segera selesai 2 pekan sebelum hari-H, dan harus tersebar maksimal 1 pekan sebelum hari-H. Harus ada cincin kawin yang harus sudah disiapkan untuk mempelai wanita pada saat pengucapan janji di depan saksi, dan lain-lain.

Ilustrasi sederhana di atas sesungguhnya adalah sebuah rangkaian target-target kecil yang harus dilakukan untuk menuju tujuan akhir yang besar. Jika tidak, maka jangan harap tujuan besar yang kita inginkan akan dapat diraih.

3. Membuat ornamentasi aktivitas

Harus disadari bahwa hari ini tidak akan mungkin sama persis dengan hari kemarin. Juga hari esok tidak akan mungkin akan sama persis dengan hari ini. Jutaan orang yang hidup pada masa sekarang ini tidak ada satupun yang sama persis dengan orang-orang yang pernah hidup di masa lalu.

Alam saja memberikan sebuah contoh yang mestinya bisa kita maknai. Alam menjalani waktu yang sama dengan manusia, melalui siang dan malam selama 24 jam sehari. Dan alam ini sudah menjalani rutinitas itu sejak awal keradaannya. Tapi, perhatikanlah! Sekali waktu alam menghiasi dirinya dengan hujan, di waktu yang lain dengan sinar matahari yang sangat terik, bahkan sekali waktu dengan letusan gunung berapi, topan, badai, dan bahkan banjir bandang. Kemudian alam pun menampakkan keindahannya sebagaimana kita lihat pada hari ini.

Maka kita perlu menghias rutinitas kita dengan sesuatu yang menarik, yang membuat kita terus bersemangat dan memiliki ambisi. Mungkin sekali waktu dengan berangkat ke tempat pekerjaan lebih pagi dari biasanya? Atau dengan mengganti foto keluarga diatas meja kerja Anda? Atau coba Anda pampang besar-besar tulisan mimpi-mimpi besar yang ingin Anda raih di tahun in? Atau apa saja karena rutinitas tidaklah sama dengan monoton. 

4. Melakukan evaluasi berkala

Evaluasi mutlak diperlukan. Karena jalan yang kita lalui tidak selamanya mulus. Banyak aral melintang yang harus cepat disikapi dan ditemukan solusinya. Dengan cara mengevaluasi juga membuat kita waspada untuk tidak melakukan kesalahan berulangkali.

Disamping itu, kekurangan-kekurangan yang ditemukan harus menjadi bahan perumusan untuk melakukan tindakan berikutnya. Sehingga rutinitas yang dilalui menjadi hidup dan mengarah kepada apa yang diinginkan. 

5. Melangkah dari sisi lain

Ketika sebuah ballpoint disodorkan kehadapan Anda, dan kemudian Anda diminta untuk menulis sebuah cerita, maka karena terbiasa menulis dengan tangan kanan, yang Anda lakukan adalah langsung memainkan ballpoint itu dengan tangan kanan Anda. Saat permintaan kedua muncul "Tulislah cerita itu dengan tangan kiri Anda!", seketika Anda akan berhenti dan mengatakan "itu sesuatu yang tidak mungkin!".
 
Kita tidak menyadari bahwa diluar sana banyak orang yang telah melakukan suatu pekerjaan yang kita anggap tidak mungkin. Dan justru bagi mereka itu adalah hal biasa yang sama sekali tidak istimewa. Maka tidak ada salahnya jika kita mencoba melalui rutinitas kita dasi sisi yang lain.
 
Dari beberapa tips diatas tentu kita menyadari bahwa rutinitas adalah suatu keniscayaan yang mau tidak mau harus kita lalui. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengendalikannya agar menjadi potensi besar untuk mencapai sukses..  

February 15, 2007

Sudut Rutinitas

Filed under: Uncategorized

SUDUT PANDANG TENTANG RUTINITAS 

By. Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

Sebagian besar orang beranggapan bahwa rutinitas merupakan penyebab kejenuhan, penyebab menurunnya spirit, penyebab kebosanan, atau penyebab-penyebab lain yang bermuara kepada sesuatu yang negatif. Dimana pada akhirnya rutinitas akan menggiring pelakunya kepada situasi ke-tidak-produktif-an.

Asumsi ini bisa jadi benar, tetapi juga bisa jadi tidak benar. Mengapa? Seorang pekerja sebuah perusahaan yang telah menjalani masa kerja selama 20 tahun umumnya berbeda spirit dengan pekerja yang baru 3 atau 5 tahun. Kualitas kerja di lapangan pun akan tampak berbeda, pekerja yang jauh lebih lama bekerja besar kemungkinan melakukan pekerjaannya dengan agak ‘ogah-ogahan’ karena kejenuhan yang tak tertahankan. Sehingga dikatakan bahwa rutinitas yang demikian lama akan menjadi penyebab utama timbulnya ke-tidak-produktif-an.

Mari kita belajar dari alam semesta beserta segala isinya. Perhatikan bagaimana bumi berotasi mengelilingi matahari. Dimana dalam bahasa awam kita, setiap pagi matahari akan terbit diufuk timur dan kemudian tenggelam di ufuk barat sore harinya. Hal ini berlangsung sekian lama semenjak tata surya ini ada hingga waktu yang tak pernah kita tahu kapan akan berakhir. Lalu bagaimana seandainya sekali waktu matahari terbit dari ufuk timur dan kembali tenggelam di ufuk timur juga? Atau jika matahari terbit dari barat dan tenggelam di sebelah selatan?

Di bagian dua polar bumi, baik kutub utara maupun selatan, terdapat kawanan burung yang setiap setengah tahun sekali melakukan perjalanan panjang dari kutub utara menuju kutub selatan atau sebaliknya. padahal yang harus mereka lalui adalah jarak ribuan kilometer dan samudera yang demikian luas. Perjalanan itu dilakukan hanya untuk menghindari musim dingin yang mencekam dan menuju kutub lain yang berhawa hangat karena musim panas. Demi bertahan hidup. Lalu pertanyaannya, mengapa burung-burung itu tidak singgah saja di daratan tropis, berdiam disana dan menjalani hidup baru? Sehingga tidak perlu lagi secara rutin melintasi daratan dan lautan ribuan kilometer dari utara ke selatan ataupun sebaliknya?

Diri kita pun bisa menjadi pelajaran yang baik dalam hal ini. Dua hal yang tidak pernah kita tinggalkan dan kita pun melakukannya dengan senang hati adalah tentang tidur dan makan-minum. Sejak pertama kali kelahiran kita di muka bumi ini, manusia tidak pernah merasa bosan melakukan dua aktivitas ini. Bahkan banyak hal yang rela dikorbankan demi tidur dan makan-minum. Jika saja 2 pekan seseorang tidak melakukan tidur ataupun makan dan minum, maka sudah dipastikan apa yang akan terjadi. 

Jika melihat beberapa contoh diatas, maka sepertinya rutinitas justru menjadi sebuah keharusan. Sebab, jika rutinitas terganggu dan terjadi penyimpangan maka akan menjurus kepada kerusakan bahkan kehancuran. Oleh karena itu, agar kita bisa mengambil sikap yang tepat terkait rutinitas, kita harus memiliki cara pandang yang benar tentang rutinitas. Berikut ini adalah cara pandang yang tepat tentang sebuah rutinitas,

1. Rutinitas sebagai sebuah kebutuhan

Sebagaimana kita membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup sekaligus untuk melanjutkan kehidupan. Melakukan beragam pekerjaan dengan stamina yang fit untuk meraih kesuksesan demi kesukssan. Juga seperti kebutuhan kita tentang tidur, mengistirahatkan sendi-sendi, mengumpulkan energi dan menghilangkan keruwetan otak yang demikian penat.

Bukankah sama halnya kita butuh terus mengais rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Demikian juga dengan butuhnya kita terhadap kehadiran para pegawai kita untuk mengerjakan siklus bisnis yang kita jalankan. Ini pula yang dilakukan para sopir angkot atau metromini yang mesti bolak-balik melalui jalan yang sama setiap hari demi mendapatkan uang.

2. Rutinitas sebagai alat mencapai tujuan

Apa yang membuat kita rela mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak dari usia dini hingga perguruan tinggi? Bukan waktu yang tidak sebentar menghitung usia belajar mulai dari palygroup hingga selesai kuliah. Paling tidak antara 16 - 23 tahun. Bayangkan! Itu pun pernah kita jalani. Meski rasa malas dan jenuh berseliweran terlintas di benak kita, tetapi ada satu tujuan besar yang membuat kita semangat dan terus bertahan. 

3. Rutinitas sebagai sarana pematangan

Seorang calon pemimpin baik di sebuah perusahaan maupun suatu organisasi, sering kali diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat secara rutin oleh atasan atau seniornya. Untuk menguji ketahanan dan kemampuannya mengelola keadaan. Tidaklah mungkin seseorang yang piawai dibidang tertentu muncul begitu saja sekonyong-konyong tanpa melalui terlebih dahulu proses yang panjang. Peneliti, profesor, dokter, dan profesi apapun tidak akan mencapai tingkat kematangan atau keahlian tanpa proses rutin yang harus dijalaninya. 

4. Rutinitas sebagai sarana optimalisasi

Seorang Ronaldo, atau Ronaldhino adalah para pemain terbaik yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya ‘mengocek’ bola dan mencetak gol. Demikian juga Beckham dan Zidane. Akan tetapi, kenapa para pelatih dan pemain bola tidak pernah berhanti berlatih untuk menghadapi pertandingan-pertandingan? Bukankah mereka para pemain bola tersohor?

Jawabannya adalah bahwa rutinitas latihan yang mereka lakukan adalah dalam rangka mengoptimalkan potensi dan keahlian agar dapat melakukan yang terbaik dalam sebuah pekerjaan besar. 

Ternyata tidak sepenuhnya benar jika rutinitas adalah penyebab utama ketidak-produktifan, bahkan jika ditelaah lebih mendalam, ada kekuatan besar dibalik rutinitas. Rutinitas salah satu syarat meraih kesuksesan.

Lalu bagaimana mengelola rutinitas? Nantikan kajian berikutnya.

Kamis, 15 Februari 2007 

February 8, 2007

Metamorfosa

Filed under: Uncategorized

PERUBAHAN ADALAH SEBUAH KENISCAYAAN

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Kehidupan senantiasa berubah dan silih berganti. Semenjak penciptaannya, alam semesta beserta segala isinya selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Teori ledakan besar ‘big bang’ yang menjadi awal mula jagat raya ini, tentu jauh berbeda kondisinya saat ini dengan ketika awal penciptaanya. Hijau dan suburnya bumi ini tentu tidak sama ketika ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu mengalami kegersangan. Ya, alam memberikan pelajaran tentang perubahan. Perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Manusia mestinya juga bisa belajar dari dirinya sendiri. Metamorfosa seorang manusia dari setetes air yang hina menjadi janin, kemudian datang ke alam fana ini sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil yang riang, lalu tumbuh memasuki usia remaja hingga menjadi dewasa dan tua, adalah contoh lain sebuah perubahan.

Namun, yang terpenting untuk menjadi pemahaman yakni bahwa perubahan adalah sebuah proses kehidupan itu sendiri. Hanya mereka yang mau dan siap berubah saja yang akan menjadi ‘petarung’ tangguh dalam kehidupan ini. Sedangkan yang tidak siap melakukan perubahan, maka hanya akan menjadi ‘pecundang’ dan mati tergilas kehidupan.

Berubah menjadi lebih baik, lebih, kuat, atau lebih sukses sudah barang tentu memerlukan proses dan perjuangan. Keberhasilan tidak datang kepada para pemalas dan pemuja angan-angan yang tidak pernah berusaha untuk menggapainya. Keberhasilan juga tidak datang kepada penikmat kemudahan yang bodoh, bahkan keberhasilan tidak akan menghampiri para pecundang dan siapa saja yang mudah putus asa. Karena keberhasilan dan kesuksesan memiliki cara tersendiri untuk datang kepada para pemiliknya.

Satu kisah metamorfosa berikut ini sungguh sangat luar biasa untuk menjadi pelajaran bagi ‘petarung-petarung’ kehidupan yang tangguh;

Suatu hari, muncul celah kecil pada sebuah kepompong. Seorang anak muda berada didekatnya dan memperhatikan detik demi detik calon kupu-kupu kecil itu berjuang keras untuk keluar dari celah tersebut. Sudah berjam-jam lamanya celah itu hanya bergerak sedikit demi sedikit, sampai kemudian tampak terhenti. Sepertinya usaha tersebut sia-sia belaka dan seolah usahanya gagal dan tak mungkin berhasil.

Anak muda itu tertegun, dan akhirnya memutuskan untuk membantu membongkar kepompong tersebut. keluarlah kupu-kupu kecil dengan mudah darinya. Namun, apa yang terjadi? Tubuh kupu-kupu itu kecil dan sayapnya tidak mengembang dan kurang sempurna. Anak muda itu diam dan terus memperhatikan, berharap bahwa sebentar lagi sayap tersebut akan terbuka, membesar, dan berkembang menjadi sayap yang kuat yang dapat membawa tubuhnya sendiri terbang mengarungi dunianya yang baru. 

Akan tetapi, apa yang diharapkan anak muda itu tidak kunjung datang. Sayap itu tetap lemah dan tidak mengembang hingga akhirnya kupu-kupu tersebut menghabiskan hidupnya dengan merayap dan lemah. 

Kehidupan dan perubahan membutuhkan perjuangan, seekor kupu-kupu secara alamiah tidak pernah lelah dan putus asa untuk merobek kepompong yang menghalanginya dari dunia luar. Namun, sungguh bahwa upaya keras dan panjangnya itu adalah sebuah proses untuk dirinya menjadi lebih matang, kuat dan tangguh. Untuk melanglang buana menjalani kehidupan berikutnya yang penuh kesempatan.

Demikian pula dengan kita, manusia. Jika diresapi lebih mendalam, maka segala tantangan dan ujian hidup hanya lah sebuah jalan menuju kematangan dan kesiapan meraih keberhasilan. Mengapa tidak mencoba untuk berfikir, bahwa awal-mula kehidupan setiap manusia dimulai dengan pertarungan. Dan kita adalah sosok petarung tangguh dan pemenang itu. Karena setiap manusia tumbuh dari benih pilihan yang unggul dan telah mengalahkan ribuan bahkan jutaan sperma lainnya. Bukankah kita telah dilahirkan sebagai ‘petarung’ yang tangguh?

Karenanya, keyakinan dan perubahan adalah jalan meraih keberhasilan dan kehidupan yang lebih baik bagi para petarung sejati. Saatnya memulai untuk ber-metamorfosa!

Menjadi Lumut

Filed under: Uncategorized

TIDAK SEKEDAR SUKSES SEBATANG KARA

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 
Perhatikan disekeliling kita. Jika diminta untuk menyebutkan satu per satu benda apa saja yang kita lihat, maka akan berderet daftar sebutan benda tersebut. Dari mulai bangunan rumah, jalan aspal, bebatuan dipinggir jalan, abang penjual sayur, atau tanaman hias dan indah serta pepohonan yang rindang.

Apakah dihalaman rumah Anda tertanam pohon mangga? Atau pohon rambutan? Atau pohon yang lainnya? Apakah Anda menanamnya sejak pohon itu masih kecil, atau bahkan saat pohon-pohon tersebut masih berbentuk biji? lalu bagaimana mereka tumbuh dan berkembang? Apa yang Anda lakukan agar mereka tumbuh dengan dengan baik?

Pertanyaan beruntun ini belum juga selesai, masih ada pertanyaan lanjutan untuk menjelaskan tentang satu perkara besar yang sangat penting bagi kita. Pertanyaan selanjutnya, apa yang terjadi seandainya biji pohon itu anda biarkan teronggok diatas halaman yang dicor atau permanen? Atau jika biji itu Anda lempar ditengah jalan aspal. Apakah masih tetap akan hidup dan tumbuh?

Pertanyaan yang lebih ekstrim diantaranya ialah, seandainya pun biji itu sudah tumbuh menjadi pohon, apakah dia bisa bertahan hidup jika ditempatkan dipuncak pegunungan, atau didalam gua, diatas bebatuan cadas, atau mungkin di dalam lautan? Atau minimal ditanah yang gersang dan sedikit meminum air?

Secara sederhana kita bisa memberi konklusi atau simpulan bahwa pohon-pohon itu cepat atau lambat akan mati. Sebab mereka tidak hanya sekedar membutuhkan air atau sinar matahari yang cukup, tetapi mereka juga membutuhkan tempat hidup yang subur dan kondusif. Sehingga jika tempat hidup menjadi tidak sesuai lagi, maka layu dan kemudian mati tinggal menunggu waktu saja. 

Sekarang, kita masuk pada segmen pembahasan yang kedua. Yaitu tentang lumut. Dimana lumut juga termasuk salah satu keluarga tumbuhan, meski dari ratusan spesiesnya, hampir tidak ada yang melebihi ketinggian 10 cm.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor penting kenapa kita mesti membahas lumut setelah menguraikan tentang ‘pohon mangga’. Meski lumut memiliki bentuk tubuh yang kecil dan tak ’segagah’ pepohonan yang berada diatas ‘kelas’nya, tetapi dalam proses kehidupan lumut menjadi satu faktor penentu yang sangat signifikan. Apakah kita memperhatikan bahwa tumbuhan sederhana ini merupakan ‘cikal-bakal’ kehidupan? Silahkan buka kembali pelajaran biologi kita di sekolah dulu.

Beberapa ciri penting yang dimiliki lumut adalah, bahwa ia dapat hidup dan berkembang dimana-mana. Mulai dari pegunungan yang dingin, sungai yang berkelok, dinding yang permanen, lantai yang berkeramik, atau dalam lautan yang dalam. Bahkan sekeras apapun bebatuan, lumut bisa hidup dan tumbuh diatasnya.

Yang kedua, dengan kondisi sesulit apa pun lumut masih mampu bertahan. Dari mulai kekurangan sinar matahari, kekurangan air, atau pun kekurangan ‘nutrisi’. Hingga dinding-dinding kamar mandi rumah kita yang terlapis keramik saja masih bisa ditumbuhi lumut.

Ketiga adalah, proses hidup lumut memberikan dampak besar bagi kehidupan yang lain. Bumi yang kita diami ini adalah sebuah bebatuan super keras yang pejal diawal pembentukannya. Kemudian lumut yang mendiaminya, meremuknya, dan menjadikannya subur yang pada akhirnya tumbuh pepohonan dan makhluk hidup lainnya.

Paling tidak, tiga hal mendasar inilah yang perlu dijadikan pelajaran bagi kita. Bahwa dalam hidup ini kita perlu cerdas beradaptasi dengan beragam ekosistem kehidupan kita. Karena seringkali kita dituntut untuk melalui ekosistem demi ekosistem yang demikian beragam dan kontras dalam proses hidup ini. Terkadang hal ini disebabkan oleh siklus yang kita rancang atau kesulitan kondisi yang menjepit.

Berikutnya, kita mesti menjadi sosok yang mampu survive dengan segala keterbatasan. Karena lingkungan hidup kita tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, baik karena tidak mampu mendapatkannya atau karena ketiadaan apa yang diinginkan. 

Dan, dalam hidup ini mestinya kita bisa menjadi manusia yang mampu menebar manfaat bagi orang lain. Karena kesulitan apa pun yang kita hadapi sekali waktu orang lain juga mengalaminya. Bahkan tidak sedikit yang jauh lebih buruk dari kita. Atau keberhasilan yang kita peroleh, akan lebih bernilai jika itu menjadi faktor penyebab keberhasilan bagi orang lain. Bukankah menjadi satu kepuasan jiwa jika banyak orang lain sukses lantaran peran kita? Karena keberhasilan ‘bersama’ akan lebih indah dibanding keberhasilan sebatang kara.

Rabu, 31 Januari 2007

Melangkah Mundur

Filed under: Uncategorized

SEKALI WAKTU KITA HARUS MELANGKAH MUNDUR

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator) 

 
Apabila berada di dalam sebuah ruangan besar, cobalah untuk berdiri merapat ke tembok. Pastikan wajah kita mengarah dinding dan punggung menghadap ke arah luas ruangan. Cobalah mulai mengayun tangan dan melangkahkan kaki ke depan. Apa yang akan terjadi? Atau dengan gerakan yang lebih tertata kita perlu pelan-pelan menempelkan tubuh ke dinding dan cobalah untuk bergerak ke arah depan. Apa yang akan terjadi? Perhatikan pula pandangan kita. Apa saja yang bisa kita kenali atau dapat terlihat?

Jawaban dari beberapa simulasi diatas adalah, ketika kita mencoba berjalan ‘menembus’ dinding yang terjadi adalah bahwa kita tidak mampu bergerak lebih maju ke depan, apalagi untuk sampai menembus dinding. Ayunan tangan dan gerak langkah kaki kita pun menjadi terhambat dan terbatas, dan cenderung tidak memberi fungsi sedikit pun.

Atau jika kita menempelkan tubuh pada dinding dan kita coba bergerak mendorong dinding, yang terjadi justru seolah dinding lah yang mendorong kita. Maka jika tidak siap, bisa jadi diri kita sendiri yang akan terpental dan jatuh terjengkang. Demikian pula dengan jangkauan pandang kita, mungkin hanya warna tembok saja yang bisa terpampang di pelupuk mata. Kita tidak bisa menentukan pilihan karena segala sesuatunya terkesan sewarna dan monoton, apalagi jika kita semakin merapat ke dinding, maka pandangan mata kita menjadi semakin samar dan bias. Menyedihkan. Kondisi itu lah yang sering kita sebut sebagai ‘dead lock’, buntu atau ‘mentok’.

Begitu juga warna kehidupan kita, tidak jarang kita menghadapi kondisi sulit semacam itu. Dimana seolah kita tidak mungkin bisa melangkah maju lagi, atau sekedar untuk mencari jalan keluar. Sedangkan waktu itu adalah kondisi terburuk yang tidak pernah kita inginkan. Maka yang muncul kemudian adalah sikap nervous, tegang, marah, kesal, bahkan putus asa. Seandainya kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama maka bisa jadi kita akan menjadi ‘lumpuh’ dan tak mampu bangkit kembali.

Bukankah korelasi contoh diatas terkadang kita alami dalam proses kehidupan setiap manusia? Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana bisa bersikap cerdas memandang setiap kesulitan yang mencoba menghadang kita. Sehingga langkah solusi yang menjadi pilihan kemudian adalah solusi yang benar-benar cepat dan tepat, bukan sebaliknya hanya jalan keluar semu yang terkadang justru menghancurkan.

Cobalah sesekali kita amati sebuah mobil yang sedang hendak keluar dari lokasi parkiran. Tidak jarang di depan dan kanan-kiri mobil tersebut juga berderet mobil-mobil lain yang jika tidak hati-hati pasti akan merusaknya. Dan resiko yang harus kita tanggung dari kecerobohan kita barang tentu tidak lah murah. Maka apa yang dilakukan oleh pengemudi mobil untuk keluar dari jepitan tempat parkir yang sempit? Hal umum yang dilakukannya adalah mulai menjalankan mobilnya dengan mundur perlahan-lahan. Mengatur posisi, arah dan mengukur peluang jangkauan mobil agar jika sudah saatnya maka mobil bisa sedikit berkelok dan kemudian meluncur maju.

Bukankah tidak jauh berbeda dengan kondisi sulit yang terkadang menghampiri kita. Berfikirlah bahwa kita tidak perlu terburu-buru melangkah maju menabrak dinding, tetapi melangkahlah mundur secara perlahan-lahan. Dan amati apa yang mampu kita pandang di hadapan kita. Yakinilah bahwa saat kita mulai melangkahkan kaki bergerak mundur, mulai bisa kita lihat bahwa di bagian lain dari dinding itu tergantung sebuah lukisan pemandangan alam yang sejuk. Kita juga bisa melihat di sisi yang lain ada jam dinding yang jarumnya bergerak teratur. Atau disudut ruangan terdapat meja kecil dengan sebuah vas bunga dan lampu hias yang cantik. Di bagian lantai kita lihat karpet dan permadani yang indah dan lembut. Disamping itu, kita bisa melihat pada salah satu sisi ruangan tertata sofa berwarna krem yang empuk dan megah. Atau dibagian dinding sisi lainnya kita bisa melihat beberapa buah karya lukisan siluet yang memiliki nilai seni tinggi. Bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan melihat sebuah jendela dengan sudut pandangnya yang demikian luas untuk melihat dunia luar. Dan pasti kita juga akan dapati pintu ruangan yang berfungsi sebagai jalur keluar masuk ke ruangan tersebut.

Dari situ lah kemudian kita mengetahui bahwa di depan kita tidak hanya terdapat dinding pejal yang mustahil untuk kita tembus. Dan kita juga jadi mengerti bahwa ruangan itu bukan lah ruangan samar yang monoton dan menyebalkan, tetapi sebuah ruangan yang nyaman penuh dengan asesori ornament. Dan yang terpenting adalah bahwa di bagian sisinya, ruangan tersebut memiliki ‘jalan keluar’ menuju tujuan yang kita inginkan.

Maka, tidak ada ruginya sesekali kita melangkah mundur sejenak. Mengatur siasat dan stragtegi, mengambil nafas dan melakukan pertimbangan matang untuk kemudian meluncur maju menuju tujuan yang ingin kita capai. Karena dunia ini demikian luas, dan selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan hidup yang kita hadapi. Yakinlah!

Selasa, 30 Januari 2007

Menengok Kematian

Filed under: Uncategorized
KARENA WAKTU KITA TIDAK CUKUP PANJANG
Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)
 
 
Waktu kita tidak banyak untuk menunda kesuksesan. Hal ini disebabkan karena adanya gerbang ketidak-produktifan dan batasan jatah kehidupan setiap orang yang sungguh sangat tidak panjang. Usia yang dimiliki setiap manusia maksimal hanya berkisar pada angka 60-70 tahun. Setelah itu, kematian pun segera menjemput.
 
Kematian adalah pemberhentian yang pasti akan kita singgahi. Dia adalah penutup kesempatan dan pemutus kehidupan. Ibarat kehidupan ini adalah sebuah kereta dan kita sebagai penumpangnya, maka pasti akan tiba waktunya sampai di stasiun tujuan.

Itulah kematian yang mesti berulang-ulang kita sadari dan renungi, bahwa ternyata kesempatan, hiruk pikuk, gemerlap dan warna-warni kehidupan ini akan segera terhenti kita nikmati hanya dengan satu peristiwa yang sederhana, ‘mati’.

 
Setiap kita sudah mendapatkan waktu yang tepat untuk tiba di stasiun kehidupan, tidak bisa dimajukan ataupun ditunda barang sebentar. Dan setiap makhluk yang bernyawa, khususnya manusia, semuanya sedang bersama-sama menaiki kereta kehidupan ini. Diantaranya ada yang sedang duduk santai, karena mengira stasiun yang ditujunya masih jauh. Ada yang sedang berdegub kencang hatinya, karena stasiun tujuannya sudah didepan mata. Ada pula yang sedang bersiap diri mengumpulkan bekal-bekal terbaiknya.

Tetapi yang lebih pasti adalah, bahwa ratusan, ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta manusia sudah banyak yang turun dari kereta ini, mereka sudah sampai di tempat pemberhentian mereka, stasiun yang memisahkan antara kehidupan dan kematian.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al - Ankabut : 57)

Inilah satu realitas yang tidak bisa dipungkiri, maka masihkah kita berfikir bahwa untuk menuju keberhasilan dan kesuksesan kita masih saja menunda esok hari? Waktu kita terus berjalan dan berlalu, tidak ada kompromi untuk bisa terulang kembali. Maka bagaimana kita ingin menggapai segala impian-impian kita tentang kesuksesan dan keberhasilan, sementara hingga kini kita belum berbuat dengan maksimal bahkan belum berbuat apapun?

 
Karenanya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk segera memulai merenda mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan. Jangan terus berpangku tangan, karena sekali lagi, waktu kita tidak cukup panjang.
 
Senin, 22 Januari 2007

Belajar dari Semut

Filed under: Uncategorized

APA YANG TERPIKIRKAN TENTANG SEMUT? 

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 
Pertanyaan yang sederhana, tetapi memiliki jawaban yang luas dan penting. Mengapa? Jika kita mengamati bagaimana kehidupan semut, atau lebih tepatnya kawanan semut, maka banyak hal yang harusnya bisa menjadi inspirasi berharga buat kita.

Semut, dimana pun tempatnya, adalah binatang kecil yang tidak pernah diam dan senantiasa bergerak. Ketika telah memiliki tujuan, maka semut akan terus bergerak tanpa kenal lelah. Bahkan, seandainya kita mencoba menghalangi jalannya maka semuat tanpa putus asa mencari jalan lain menuju sasaran.

Semut juga tidak pilah-pilih tempat untuk menggapai tujuannya. Semut tidak pilah-pilih lokasi untuk mencari dan mengumpulkan makanan sebagai bekal hidupnya dan kawanannya. Walau ditempat yang tinggi sekalipun atau tempat yang dalam dicelah-celah tanah yang gelap ia akan memburunya, dan tidak jarang meskipun nyawa menjadi taruhan.

Makhluk kecil ini juga mengajarkan tentang bagaimana mengumpulkan bekal untuk bertahan hidup. Sebab, musim panas tidak akan berlangsung selamanya. Ada musim hujan yang siap menggantikannya. Semut tidak melakukan penghentian aktivitasnya secara total, hanya mengurangi frekuensinya saja di masa tertentu, sebab bagi semut panas dan hujan adalah dua kondisi yang sama-sama menyenangkan. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Hal ini tentu realistis bagi kita, karena kesempatan tidak selamanya datang dengan kemudahan yang sama.

Ciri menonjol yang ditampilkan semut adalah kehidupan yang tertata. Mereka hidup dalam komunitas yang disiplin sesuai dengan pembagian tugas yang dimilikinya. Ada tipe pemburu, tipe pengumpul, tipe penjaga, dan juga tipe prajurit. Disamping itu, pelajaran yang bisa didapatkan adalah bahwa kehidupan semut merupakan kehidupan yang penuh dengan nilai kebersamaan dan gotong-royang. Sering kali kita melihat, jika seekor semut menemukan makanan yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran badannya, maka ia akan bergerak mengelilingi makanan dan kemudian dalam waktu singkat pergi memanggil kawanannya untuk bersama-sama mengangkut makanan tersebut. Sehingga seberat apapun beban dapat diselesaikan dengan baik dan cepat.

Apa saja nilai yang bisa Anda dapatkan? Paling tidak ada pelajaran tentang antusiasme, optimisme, sikap pantang menyerah, keberanian, managemen waktu, kebersamaan, kedisiplinan dan kerjasama, yang bisa kita dapatkan dari mereka. 


Jum’at, 19 Januari 2007

Tentang Air

Filed under: Uncategorized

SEPERTI AIR MENJADI PIONIR

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 
KALAU kita mengamati, bagaimana ilmu geologi menjelaskan tentang proses kehidupan di alam ini, maka kita akan dapati pengetahuan bahwa ratusan juta tahun yang Tuhan yang Maha Perkasa telah menciptakan proses kehidupan di muka bumi ini dengan air.

Air yang diciptakan-Nya di planet bumi ini sungguh memiliki makna sentral, inilah perkara besar yang membedakan planet bumi dengan planet lainnya. Sehingga diantara triliunan planet di jagad raya ini, hanya planet bumi saja yang jadikan-Nya tempat hidup manusia. Ya, karena hanya di bumi saja air yang cukup bisa ditemukan.

"Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Az-Zumar:21)

Secara geologis kehidupan ini memang dimulai dari unsur air. Dari air tumbuh lah lumut yang bisa hidup diatas batuan yang paling keras sekalipun. Dan lumut kemudian pelan pelan menghancurkan batuan bumi yang sedemikian keras, makin lama makin subur. Setelah itu, mulai tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang memiliki kelas lebih tinggi; berdaun, berakar, bertangkai, bahkan berbuah. Setelah itu barulah bertebaran makhluk hidup yang lain, hewan dan manusia.

Kalo mencermati kejadian tersebut, maka kita akan dapati satu pelajaran yang sarat makna. Air, adalah pionir proses kehidupan. Begitulah semestinya kita. Menjadi ‘petarung’ tangguh tidak cukup sekedar menyapu lantai yang kotor,menjadi penutup genteng yang bocor atau berlayar mengikuti kemana angin berhembus. Tapi menjadi petarung kehidupan seharusnya bisa menjadi pionir kebaikan, kesuksesan, menjadi inspirasi perubahan, dan menjadi penggagas blue print peradaban ini. Dirinya ibarat seekor ayam jantan yang berkokok di dini hari, saat manusia lain terlelap dalam buaian. Atau seperti matahari yang memancarkan terang cahayanya ketika pagi menjelang, yang mendorong manusia ‘hidup’ dalam aktivitasnya.

Seorang petarung tangguh seharusnya menjadi pionir yang meng-create hari esok, untuk dirinya dan orang lain. Seperti air yang menjadi pionir proses kehidupan. Apakah kita bisa menjadi seperti air?

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (Al-Baqarah:164).

 
Senin, 22 Januari 2007





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer