MIND of Motivator

May 15, 2007

Meander

Filed under: Uncategorized

MEANDER: FILOSOFI KEGIGIHAN 

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Di dunia ini tidak sedikit orang yang lebih memilih jalan hidup yang datar-datar saja. Jalan yang dianggapnya jalur paling aman dan jauh dari resiko dan kerumitan hidup. Pilihan tersebut ternyata bukan karena seseorang tidak memiliki bekal dan potensi, namun lebih kepada ketakutannya yang tinggi terhadap kegagalan. Hal lain yang memperkuat pilihannya adalah karena faktor ketidakyakinannya terhadap apa yang ia cita-citakan.

Apakah ada jaminan jika datarnya pilihan hidup kita akan menjamin sepi dan sunyinya jalan hidup yang kita tempuh? Apakah bisa dipastikan bahwa hidup kita tak kan pernah ada masalah? Atau apakah dengan hidup yang datar kita pun akan terhindar dari ujian dan kesulitan? Ternyata tidak. Sediam apapun gerak hidup seseorang akan senantiasa diiringi resiko dan kesulitan. Mengapa? karena pada hakikatnya kesulitan itu adalah bagian dari hidup itu sendiri. Kesulitanlah yang membuat pola pikir manusia berkembang dari waktu ke waktu. Dan kesulitanlah yang membuat manusia bertambah cerdas dalam memanajemen kehidupannya.

Dahulu orang hidup dengan budaya primitif dan atmosfirnya, dan sekarang manusia pun hidup dengan segala macam fasilitas dan kemudahannya. Jika untuk memotong umbi-umbian saja dahulu kala orang menggunakan kapak batu dengan segala keterbatasannya. Maka pada hari ini manusia telah mampu merobohkan pohon berdiameter puluhan inchi hanya dengan sekali tebas dalam hitungan detik. Lalu apakah kemudian dikatakan pada masa sekarang masalah dan kesulitan sudah habis? Ternyata orang dahulu dan orang-orang zaman sekarang sama-sama memiliki tantangan dan kesulitan hidupnya masing-masing. Yang membedakan hanyalah jenis dan tingkat kesulitan yang pada hari ini lebih berkembang dan beragam dibandingkan pada zaman terdahulu.

Orang yang hidupnya penuh dengan kesunyian, pasrah terhadap nasib, menyerah dengan keminderannya, tidak akan lebih sepi berhadapan dengan kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan orang yang hidupnya senantiasa berjibaku dengan perjuangan dan kerja keras. Oleh karena itu, kita di sini ingin mempertegas bahwa apa pun jalan yang ingin kita tempuh, termasuk jalan sukses atau jalan yang biasa-biasa, akan selalu saja ada kesulitan dan tantangan, bahkan batu sandungan. Dengan demikian, lalu kenapa harus ragu untuk mencoba mencari peluang sukses lain yang sebelumnya belum sempat kita pikirkan?

Hidup yang datar-datar saja memang sisi lain sebuah ‘kenyamanan’, zona aman yang tidak dihantui resiko dan pengorbanan. Dan merekapun kemudian mengatakan "Ah, hidup ini tak perlu dibuat susah, mengalir saja seperti air dan syukuri apa yang menjadi pemberian-Nya." Sepintas kalimat ini memiliki makna yang tepat dan selaras, namun sebenarnya keliru dan menjerumuskan.

Perhatikanlah bagaimana air mengalir dari hulu di puncak pegunungan, kemudian terus mengalir melewati dataran puluhan bahkan ratusan kilometer menuju hilir di lembah yang rendah. Benarkah aliran air itu mengalir dengan pola datar-datar saja?

Bukalah sebuah peta diatas meja dan perhatikan bagaimana alur sungai yang mengalir di sana-sini dari setiap hulunya menuju pantai. Tak satupun dari alur sungai dimuka bumi ini yang secara alamiah membentuk garis lurus. Semuanya berkelak-kelok dari semenjak hulu hingga sampai ke hilir. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang harus berkelok berbalik arah 180 derajat untuk kemudian berbelok kembali menuju pantai. Itulah meander.

Meander memberi philosofi yang tidak sederhana kepada kita jika mau merenungkannya. Ia menyiratkan pesan bahwa perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Selalu saja ada rintangan dan hambatan yang menghadang. Sebagaimana kehidupan yang dihadapai oleh semua manusia, terlebih oleh seseorang yang memiliki mimpi sukses. Tidak jarang bebatuan yang dilaluinya adalah batu-batu cadas dan batu gamping yang sulit ditembus, bahkan sesekali juga bukit yang gagah membentang menghadang arus air yang perlahan terus merangsek dari puncak gunung atau bukit di sebelahnya. Ternyata alam pun menggambarkan pesan bahwa kesulitan dan rintangan benar-benar bagian tak terpisahkan dari alam semesta dan kehidupan itu sendiri.

Menariknya, alam pun memberikan jawaban-jawaban jitu bagi setiap orang yang bersedia meluangkan sedikit waktu untuk memperhatikannya. Alam memberikan penjelasan yang lengkap bagaimana harusnya kita melalui kesulitan-kesulitan hidup tersebut. Dan meander itu adalah salah satu kunci jawabannya.

Meander memberi makna optimis, pantang menyerah, sabar, ulet, dan kreatif dalam menanggulangi persoalan-persoalan. Kenapa?

Optimis

Air sungai yang mengalir dari sumbernya di puncak gunung tidak pernah mengkhawatirkan sedikitpun apakah alirannya akan mampu mencapai hilir ataukah tidak. Yang dilakukannya hanyalah terus mengalir mencari ruang-ruang kesempatan untuk dapat berhenti disuatu titik pemberhentian akhir. Tidak peduli akan di titik bagian mana ia akan berakhir. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa, titik akhir pemberhentiannya itulah hilir, dimana pun.

Pantang Menyerah

Walau pun keras dan sulitnya bebatuan yang harus ditembus, aliran sungai terus saja mengalir. Meski berkelak-kelok dan waktu yang ditempuh pada akhirnya pun harus lebih lama jika dibandingkan dengan menempuh jalan lurus. 

Sabar

Perjalanan meraih sukses di hilir memang perjalanan yang tidak sebentar. Cukup melelahkan dan menguras cukup banyak pengorbanan dan jerih payah. Akan tetapi air terus saja mengalir walaupun harus perlahan dan tenang.

Ulet dan kreatif

Keuletan dan kreativitas selalu saja diperlukan mengingat tantangan yang harus dihadapai juga beragam dan terus berkembang. Dengan bekal perjalanan panjang yang telah dilaluinya dari ‘hulu’ sana, bukanlah sebuah kesulitan dan alasan untuk menyerah jika sekali waktu dihadangan ujian yang tidak seperti biasanya. Lebih sulit, lebih berat, dan lebih banyak menguras energi meski harus membuat sungai bawah tanah untuk menembus beratnya penghalang dan ujian tersebut.

Demikian pula kita seharusnya, untuk merajut sukses dan meraih keberhasilan harus senantiasa membekali diri dengan sikap optimis, sebagaimana optimisnya air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Dimana pun kita sampai itulah titik keberhasilan kita yang terus bisa kita bangun dan kembangkan.Juga sikap pantang menyerah seperti alur sungai yang berkelak-kelok demi meraih peluang sekecil apa pun untuk dapat lolos menuju tahap-tahap kesuksesan yang ada didepan mata. Sabar dengan kesulitan dan tidak mudah putus asa. Sebab setiap usaha yang kita lakukan, itu kita yakini sebagai bagian dari sebab-sebab teraihnya tujuan hidup kita. Serta keuletan dan kreatifitas kita dalam ‘melumpuhkan’ rintangan dan batu sandungan.

April 11, 2007

RIGHT Action

Filed under: Uncategorized

JUST RIGHT ACTION IN THE RIGHT CHANCE

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Siapa yang tidak takjub menyaksikan pelangi terbentang indah di salah satu belahan langit. Bentuknya yang hanya menyerupai setengah lingkaran membuatnya lebih sedap dipandang orang yang memandangnya. Apalagi tampilannya yang begitu alami berupa tekstur gradasi warna lembut dan ‘perfect’ menjadikan orang-orang yang menyadari kehadirannya tak akan melewatkan barang sebentar untuk menikmatinya. Tak jarang yang memberikan komentar “Waah…, pelangi. Indah sekali”. Tentu dengan rona wajah yang senang dan puas. Bahkan sesekali ada orang yang segera membuka dan mengaktifkan handphone-nya “Mama. lihat dech Ma. Dilangit sebelah timur. Ada pelangi yang indah banget. Mama bisa liat ga’ dari situ?”

Pelangi. Kehadirannya memang tidak lama. Namun, tidak dapat disangkal bahwa kemunculannya yang sebentar itu mampu memberikan efek ‘kejut’ bagi kebanyakan orang. Walaupun ekpresi orang-orang yang melihatnya sangat variatif dari mulai yang bersorak girang hingga yang memendam datar-datar saja. Minimal ada desir rasa ‘beruntung’ sempat menyaksikan bianglala yang muncul tidak sembarang waktu.

Kemunculan pelangi memang tak dapat di pastikan. Meski secara ilmiah diketahui bahwa pelangi terbentuk akibat bias cahaya matahari yang dipendarkan oleh partikel air di langit, akan tetapi tidak setiap hari dimana matahari bersinar terang atau hujan turun dengan lebat menjadi jaminan bahwa pelangi akan menampakkan diri. Juga tidak mesti nampak sesaat sebelum atau sesudah hujan baik lebat maupun gerimis. Sekalipun terjadi kombinasi antara hujan dan matahari, itu pun belum menjadi jaminan ‘merah-kuning-hijau’ tersebut akan muncul.

Pelangi muncul hanya ketika saat matahari pada posisi yang ‘tepat’ dan rintik hujan juga pada posisi dan kondisi yang tepat pula. Dimana kelembaban dan intensitas udara juga harus dalam kondisi yang mendukung.

Menjabarkan dalam kehidupan sehari-hari filosofi tentang kemunculan pelangi sebagaimana dipaparkan di atas adalah sebuah langkah yang cerdas. Jika menempatkan diri pada sudut pandang pelangi yang mampu menjadi ‘play maker’ bagi pihak lain, maka dengan melakukan hal yang sama kita tidak perlu ngoyo ‘memeras’ tenaga dan waktu untuk mengejar sebuah tahap keberhasilan.

Kita hanya perlu menata kesempatan dan merancang action untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan. Tidak harus memaksakan diri berenang di air keruh yang bergelombang sementara kita tahu bahwa kali lain air tersebut bisa berubah jernih dan berarus tenang. Kita juga tidak perlu keliling kampung di pagi hari untuk mengumumkan terbitnya matahari, atau berpeluh keringat menghilangkan ombak dilautan.

Oleh karena itu, agar dapat melakukan aksi yang optimum maka harus jeli mengurangi bahkan menyingkirkan pemborosan waktu dan tenaga hanya untuk mendapatkan ikan-ikan kecil saja. Kita harus pintar memanfaatkan saat istirahat untuk istirahat yang efektif, dan menggunakan waktu aksi untuk aksi-aksi yang berprestasi. Sebab stamina psikologis seseorang juga memiliki titik-titik jenuh, karenanya harus dikombinasikan dengan cermat dan tepat. Jangan sampai kita mengeluarkan pengorbanan yang besar untuk hasil yang tidak seberapa. Serta sebaliknya, kita justru melakukan tindakan sekedarnya untuk tujuan besar yang sesungguhnya menuntut pengorbanan besar pula.

Kesempatan yang menghampiri kita tidak selalu cukup memadai untuk melakukan sebuah langkah besar. Tanpa harus melewatkannya, kita perlu menata dan merangkai kesempatan dan peluang itu menjadi sebuah potensi yang lebih besar. Di samping itu, kita juga harus memilih dan menentukan sebuah tindakan yang tepat sesuai dengan kesempatan dan kondisi yang mendukungnya. Karena bukan waktunya memejamkan mata saat mengemudikan kendaraan dan bukan waktunya membuka mata ketika saatnya tidur.

Praktisnya, filosofi pelangi di atas dapat menjadi sebuah inspirasi bagaimana sebaiknya kita melakukan aksi-aksi strategis yang tepat guna dan tepat sasaran. Sehingga hanya dengan kemunculan yang sewaktu-waktu, orang lain justru menunggu-nunggu kehadiran kita. Dan pada saatnya kita keluar ke kancah ‘pertarungan’, maka kita pun keluar dengan penampilan yang sempurna, tenaga yang prima, pemikiran yang fresh, bekal yang memadai, dan output yang layak jual. Dengan demikian keberhasilan hanya menunggu waktu, sedangkan kita meraihnya tanpa harus babak belur. Kita hanya perlu melakukan right action in the right chance.

April 7, 2007

Salmon SPIRIT

Filed under: Uncategorized

THE SALMON SPIRIT

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator) 


Arah perjalanan hidup ini tak selalu sesuai dengan arah yang diinginkan. Saat menghendaki jalan yang ditempuh menuju ke suatu arah, namun ditengah jalan kondisi memaksa harus memutar haluan ke arah yang lain. Dan tidak jarang harus memutuskan berbalik arah demi mendapatkan tujuan-tujuan tertentu.

Begitu pula dengan apa yang kita jalani. Sering kali apa yang kita impikan atau cita-citakan berada pada posisi yang tidak mudah untuk dijangkau, bahkan mungkin sesuatu yang seolah mustahil. Kemustahilan itu bisa timbul karena sukar dan jauhnya jalan yang harus ditempuh. Banyaknya rintangan yang harus dilalui. Sedikitnya bekal dan kecilnya peluang serta kesempatan untuk bertahan sampai di tujuan. Atau bisa juga disebabkan oleh sangat-sangat sedikitnya orang yang mau menempuh jalan yang hendak kita tempuh karena banyaknya resiko apalagi nyawa yang harus dipertaruhkan.

Namun ada satu prinsip yang harus dipahami oleh setiap orang. Yaitu bahwa tidak ada satu pun pintu kesuksesan yang terbuka tanpa peluh dan keringat, dan tak akan ada keberhasilan tanpa perjuangan gigih yang tidak mengenal lelah. Karena hidup ini bukan lah cek kosong yang dapat kita cairkan kapan pun kita mau. Sebab dunia ini hanyalah sebuah ladang yang baru akan menghasilkan ketika kita telah mengolahnya dengan baik dan tekun.

Berkaca kepada Ikan Salmon

Salmon Pasifik adalah ikan yang hidup di lautan dengan lingkungan air yang memiliki kadar garam tinggi dan gelombang yang dahsyat. Uniknya, ikan Salmon ditetaskan di dalam air tawar yang jauh dari lautan. Ikan salmon juga tidak sekedar menetas di air tawar saja, akan tetapi Salmon ditetaskan tidak disembarang air tawar. Salmon hanya ditetaskan di hulu sungai yang terletak ratusan bahkan ribuan kilometer dari bibir pantai. Jarak yang sungguh sangat jauh untuk ditempuh seekor ikan, bahkan manusia sekalipun.

Beberapa waktu setelah mengalami penetasan, Salmon kecil pun mulai melakukan perjalanan pertamanya mengarungi sungai yang berkelok dari hulu di daerah pegunungan hingga ke hilir dan kemudian lautan lepas. Dari lingkungan air tawar menuju lingkungan yang bergaram pekat. Perjalanan menakjubkan yang sulit dipahami.

Namun, ada satu peristiwa yang jauh lebih menakjubkan dari perjalanan Salmon kecil sampai di dunia baru ke lautan lepas. Yaitu perjalanan ‘pulang’ Salmon dewasa ke hulu tempat awal mula mereka ditetaskan oleh induknya untuk memasuki gilirannya bertelur dan memijah, di hulu sungai yang sangat jauh.

Tidak hanya sulitnya faktor jarak yang harus ditempuh. Namun yang membuatnya jauh lebih sulit adalah karena perjalanan yang harus ditempuh adalah dengan cara melawan arus. Salmon harus melalui sungai yang tidak hanya berarus deras, tetapi juga berbatu dan berkelok-kelok. Tidak hanya itu, Salmon juga harus melewati derasnya air terjun dan tebing yang tinggi. Artinya, Salmon harus mengalahkan arus air dan gaya gravitasi bumi yang tidak kalah sulit. Benar. Untuk berhasil sampai ke hulu maka ikan Salmon mesti mampu menaklukkan air terjun yang dalam hitungan manusia sekalipun sangat mustahil untuk dilakukan.

Namun kenyataannya Salmon Pasifik hingga saat ini masih tetap ada. Fakta ini menjelaskan kepada kita bahwa proses ‘kembalinya’ Salmon ke hulu tempat dirinya ditetaskan dan untuk menetaskan keturunan berikutnya terus terjadi hingga saat ini. Fakta ini menggambarkan bahwa mereka adalah para petualang tangguh yang ’selalu’ berhasil mengalahkan rintangan. Sebagaimana yang salah satunya terjadi di hulu Sungai Rhine, dekat Strassbourg, di perbatasan antara Jerman dan Perancis.

Terlepas dari insting alamiah yang dimiliki ikan-ikan Salmon tersebut dan ‘rancangan’ alam yang memang sudah harus demikian, terdapat pesan-pesan luar biasa yang seharusnya dapat di sadari oleh manusia yang dilengkapi dengan akal dan jiwa, yaitu: keberanian, optimisme, dan pantang menyerah meski nyawa menjadi taruhannya.

March 15, 2007

Mencetak Mimipi

Filed under: Uncategorized

MENCETAK MIMPI JADI KENYATAAN

Oleh : Risyanto Aris (Lifeskill Motivator)

 
Anda pernah menyaksikan film ‘Around The World in 80 days’ yang dibintangi aktor kawakan Jackie Chan dan Steeve Coogan? Film yang diangkat dari novel klasik Jules Verne itu menceritakan tentang obsesi dan mimpi ‘gila’ seorang professor muda bernama Phileas Fogg yang hidup di abad 19. Rumah tinggalnya yang disulap menjadi laboratorium raksasa membuat dirinya dikucilkan oleh seluruh rakyat Inggris, terlebih kalangan kerajaan dan bangsawan.

Ide-idenya yang dianggap ‘konyol’, oleh sebagian kalangan pejabat kala itu dijadikan bahan ejekan. Hingga kehadiran Passepartout yang diperankan Jackie tanpa sengaja menjadi titik awal perlawanan ‘mimpinya’ dengan pejabat pemerintah kerajaan. Temuan-temuannya yang selama ini hanya tersimpan di laboratoium tuanya mulai diketahui publik. Meskipun publik saat itu masih mengacuhkan temuan Phileas seperti sepatu roda dan aplikasi mesin uap serta pembuktian bahwa manusia dapat melewati gerak kecepatan hingga 60 mil/jam tanpa mengalami gangguan sistem organ tubuh.

Salah satu mimpi besarnya yang saat itu dianggap ’sinting’ adalah tentang ‘manusia terbang’. Manusia yang dengan bantuan teknologi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan udara sebagai jalur transportasi. Hingga pada suatu pertemuan ilmiah dengan klubnya di kementrian teknologi kerajaan, Phileas ditantang sang menteri untuk melakukan perjalanan ‘mustahil’ mengelilingi dunia yang harus ditempuh hanya dalam waktu 80 hari saja. Tempo yang tidak masuk akal di abad itu.

Tantangan dipenuhi oleh ilmuwan muda tersebut. Dengan bekal keyakinannya yang kuat dan dukungan penuh dari Passepartout, perjalanan itu pun akhirnya dimulai. Meski Passepartout memiliki misi tersendiri, namun perjalanannya bersama Phileas memunculkan petualangan menarik dan menegangkan. Singkat cerita, segmen terakhir dari perjalanannya Phileas, Passepartout dan gadis cantik kekasih Phileas, terancam tidak dapat sampai di London tepat waktu. Mereka berada di tengah lautan dimana mereka menumpang sebuah kapal layar yang kehabisan bahan bakar. Kondisinya pun makin terjepit.

Di langit lepas terbang beberapa burung elang yang mengepakkan sayap dengan tenang. Phileas memperhatikan dengan seksama. Inspirasinya muncul untuk mewujudkan ‘manusia terbang’ terbang sesuai dengan beberapa teori yang pernah dirancangnya dan teori tambahan yang didapatkan dari ilmuwan kembar yang ditemuinya dalam segmen perjalanan sebelumnya. Setelah kapten kapal yang ditumpanginya mengizinkan beberapa bagian kapal dipotong-potong untuk pembuatan ‘pesawat terbang’, maka dimulailah proyek tersebut. Alhasil, jadilah pesawat tersebut dan terbanglah ketiganya menuju London.

Masyarakat London ternganga menyaksikan ‘pesawat’ atau lebih tepat ‘layang-layang besar’ terbang cepat di angkasa. Saat benda besar itu mendarat tepat ditengah kerumunan, baru lah mereka menyadari bahwa Phileas si pemimpi gila telah berhasil membuktikan impiannya. Bahkan mimpi gilanya yang lain juga berhasil ditaklukan. Mengelilingi dunia dalam waktu 80 hari.

Kisah diatas memang hanyalah cerita dalam sebuah film. Namun, jika kita ambil pelajaran ilmiahnya maka cerita tersebut menggambarkan betapa se-’mustahil’ apa pun mimpi yang kita rancang hari ini adalah sebuah keniscayaan di masa yang akan datang. Bahkan kisah di atas tidaklah se-dahsyat kenyataan kehidupan kita yang sesungguhnya karena dunia nyata manusia telah mencapai tangga yang luar biasa. Dimana hari ini  manusia memiliki tidak sekedar ‘layang-layang raksasa’ tetapi pesawat-pesawat supercepat yang kecepatanya mendekati kecepatan cahaya. Oleh karena itu, kita memahami bahwa kemajuan peradaban kita hari ini adalah ‘kemustahilan’ di masa lalu. Demikian pelik dan penuh tantangan untuk mewujudkannya.

Mari mengambil pelajaran dari sekeliling kita. Cicak salah satunya, adalah binatang mungil yang dapat memberi hikmah yang sungguh luar biasa. Cicak merupakan salah satu jenis reptilia yang hidupnya merayap di atap atau dinding rumah dan batang pepohonan.

Ada satu hal istimewa pada cicak yang dapat kita petik pelajarannya. Sebagaimana diketahui bahwa santapan cicak adalah berupa serangga-serangga kecil yang cara hidupnya terbang dari satu tempat ke tempat lain, seperti nyamuk. Akan tetapi, pernahkan ditemui ada seekor cicak yang mati mengenaskan gara-gara kelaparan tidak mampu menangkap mangsanya? Yakin saja bahwa hal itu tak pernah terjadi. Padahal secara logika adalah hal yang tak mungkin seekor cicak yang hidup dengan cara ‘melekat’ pada sebuah dinding atau bidang harus memangsa hewan-hewan kecil yang jago terbang.

Kisah cicak ini selaras dengan alur cerita film Around The World in 80 days di atas. Manusia yang memiliki bekal ‘kesempurnaan’ sudah seharusnya lebih cerdas dalam mengejar mimpinya. Lebih ulet meniti tangganya dan lebih kuat menerjang batu penghalang demi mewujudkan impiannya. Seekor cicak tidaklah mungkin punya mimpi, akan tetapi kesulitan yang dihadapinya sudah menjadi rintangan alamiah yang harus dilalui untuk bertahan hidup.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita? Mencetak impian menjadi kenyataan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Juga butuh waktu yang tidak sekejap. Dan semuanya harus diperjuangkan untuk meraihnya. Sebab, tidak akan terasa manis secangkir teh yang hanya berasal dari teh saja, kecuali jika kita menuangkan beberapa sendok gula kemudian menyeduhnya. Artinya adalah, bahwa tanpa upaya dan kerja keras maka mimpi-mimpi itu hanya akan tinggal sekedar impian tanpa kenyataan.

Cerdas Mencari Jalan

Impian kesuksesan ibarat memimpikan pulau yang indah di seberang lautan. Keindahannya di pelupuk mata namun sulit untuk menggapainya. Apalagi dengan segudang keterbatasan yang menghantui fikiran kita. Jika sudah diketahui bahwa satu-satunya jalan mencapai pulau tersebut hanyalah dengan menyeberangi lautan, maka jangan sekali-kali Anda justru lari menuju puncak gunung menjauhi bibir pantai. Karena Anda tidak akan mungkin berjalan mendekati impian Anda.

Merenunglah sejenak dan cobalah untuk mengevaluasi, apakah tempat Anda berpijak berada di atas jalan menuju impian? Jika benar, maka teruslah melangkah meski sedikit demi sedikit. Namun jika ternyata Anda berpijak di luar jalan yang akan mengantarkan menuju impian, maka segeralah rubah pijakan Anda. Berpindahlah ke gerbong atau kereta lain yang tepat sesuai arah yang hendak dituju. Jangan manjakan rasa bimbang dan khawatir, karena kebimbangan dan kekhawatiran yang menjadi-jadi hanya akan menjegal langkah Anda. Berputar haluan dengan yakin dan langkah yang benar adalah kunci awal kesuksesan menggapai impian.

Jangan Pernah Melewatkan Kesempatan

Kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan peluang yang menghampiri kita. Dan peluang itu akan datang dari berbagai penjuru yang terkadang tidak kita sangka-sangka. Baik disebabkan karena buah kerja kita ataupun yang benar-benar tak terduga.

Jika kita telah merasa letih dan lapar, sedang peluh pun semakin membanjir, tidak ada ruginya kita mampir ke warung makan dipinggiran jalan. Kita harus mengisi bahan bakar dan memulihkan tenaga. Jangan sampai memaksakan diri karena justru dapat mengakibatkan kita celaka dan putus ditengah jalan. Bukankah di kantong kita masih ada perbekalan yang belum dimanfaatkan? Jangan pelit membelanjakan bekal untuk menguatkan diri menempuh perjalanan.

Apabila kita menyadari kekurangan diri, maka jangan pernah merasa sayang untuk membelanjakan bekal demi mengenyahkan keterbatasan-keterbatasan. Jika memang harus melalui pelatihan dan ujian yang menyedot bekal. Yang terpenting adalah kita paham kapan kita harus mengambil keputusan. Sehingga peluang-peluang untuk ‘menyempurnakan’ diri adalah bagian tak terpisahkan dari kesempatan yang harus kita jajaki.

Kita perlu menyadari, bahwa disekeliling kita begitu banyak orang-orang yang telah berhasil meraih mimpinya. Dan bisa jadi impian kita saat ini adalah impian-impian ‘usang’ yang pernah dilewati orang-orang tersebut dimasa yang telah terlewat cukup lama. Seandainya, dalam perjalanan langkah kaki kita ada orang yang berbaik hati menawarkan tumpangan maka jangan pernah sekalipun kita melepaskan peluang itu. Meski mungkin tumpangan tersebut tidak persis melewati tujuan kita, maka tidak ada salahnya memanfaatkannya sekedar untuk mendekatkan posisi kita ke pulau impian.  

Berani Mencoba Meskipun harus Gagal

Tidak jarang saat kita sedang duduk santai, tiba-tiba seekor cicak jatuh dari langit-langit ataupun dinding. Dan kita pun tidak jarang melihat seekor cicak yang berlari kehilangan ujung ekornya.

Begitulah. Mengejar impian mesti dilengkapi dengan keberanian mencoba dan tidak takut mengalami kekagalan. Jika luka-luka pengorbanan yang kita alami membuat diri kita tahu cara mengobatinya, maka tidak alasan untuk menjadi pengecut dan pecundang. Jika kegagalan kita membuka mata untuk lebih jelas melihat jalan dan cara menuju sukses, maka tidak ada tempat untuk menjadi seorang penakut.

Tidak ada seorang pun yang sukses tak pernah mengalami kegagalan. Karena kegagalan sering kali menjadi sebab seseorang menjadi lebih pintar dan sukses. 

Berjuang dengan Kawan yang Tepat 

Hidup kita tidaklah sendirian. Ada banyak orang disekeliling kita yang sejalan dengan langkah kita. Atau minimal ada kawan-kawan yang selalu senag hati membantu kita. Kisah Phileas, Passepartout, dan kekasih Phileas sedikit memberi ilustrasi betapa orang pentingnya keberadaan orang-orang di sekeliling kita. Orang-orang yang selalu siap memberi dukungan dan semangat di kala letih dan semangat.

Terlebih jika mereka adalah orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan dengan kita. Tentu bahu-membahu adalah menjadi pilihan yang sangat tepat. Dan jangan sampai kita merasa sendirian ditengah-tengah kerumunan orang yang senang hati bergandengan tangan dengan kita menuju pulau impian.

Tergantung pada diri kita, mau dan tidak untuk mencetak impian. Dan cepat atau pun lambatnya juga kita sendiri yang memutuskan. Mulailah dan jangan berbalik ke belakang. Jangan setengah hati dan teruslah melangkah menuju pulau impian.

March 9, 2007

Dream and Dream

Filed under: Uncategorized

THE MIRACLE OF DREAMS

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Dapat dibayangkan seandainya dunia ini diciptakan tanpa dilengkapi dengan mimpi. Akan terasa gelap dan statis, tidak ada dinamika maupun perubahan berarti. Dan mungkin saja keadaan hari ini tidak akan jauh berbeda dengan peradaban manusia ribuan tahun yang lalu. Dimana manusia masih hidup primitif, nomaden, miskin budaya dan demikian kuat ketergantungannya dengan alam sekitar. Sehingga ketika alam sedang tidak berbaik hati, maka terancamlah eksistensi komunitas manusia tersebut.

Bagaimana jika tidak ada mimpi Michael Faraday, pria tekun yang dilahirkan dari keluarga miskin di Newington, Inggris, tahun 1791. Sosok yang dikenal dengan teori ‘Hukum Faraday’nya itu adalah penemu dasar motor listrik yang dikemudian hari menjadi ‘jiwa’ alat dan mesin canggih yang digunakan hingga saat sekarang ini.

Atau pula seandainya tidak ada mimpi pria jenius kelahiran Ohio, Amerika Serikat, di tahun 1847, Thomas Alpha Edison, maka hingga hari ini dunia akan terkungkung dalam kegelapan. Akan tetapi Edison muda telah membuat sebuah ‘keajaiban’ besar. Edison berhasil menciptakan lampu pijar impiannya sebagai babak baru peradaban dunia. Tidak hanya sekedar dapat memenuhi penerangan untuk kebutuhan rumah tangga, setelah penemuan besarnya itu terbukalah gelombang industrialisasi besar-besaran. Disamping itu, Edison juga menghasilkan temuan-temuan penting lainnya seperti piringan hitam dan mesin telegram. Sehingga tidak sekedar seorang penemu, akan tetapi dirinya juga dikenal sebagai tokoh jenius seribu temuan. 

Dua contoh di atas mungkin terlalu juah untuk dapat kita jadikan contoh. Namun yang paling penting dari kisah di atas adalah bagaimana kita bisa meyakini bahwa keberhasilan hari ini adalah mimpi-mimpi besar di masa lalu orang-orang yang tekun dan pantang menyerah.

Disamping itu, banyak sekali kisah sukses dari para pengusaha besar yang patut dijadikan inspirasi. Perjalanan pengusaha-pengusaha nasional seperti Martha Tilaar, Ciputra, Rahmat Gobel, dan lain-lain, mesti dapat menjadi motivasi untuk terus berjalan maju. Perjalanan bisnis mereka bukan saja tanpa hambatan. Karenanya, jatuh bangun meraih cita-cita adalah satu hal yang lazim. Sebab keberhasilan bukanlah jalan yang tanpa aral melintang. Kekuatan ‘dream’ itu lah yang mendongkrak tekad hingga menjadikan para pemiliknya orang-orang yang pantang menyerah.

Janganlah ragu untuk mulai merangkai mimpi. Karena mimpi itulah yang telah menjadi pangkal keberhasilan-keberhasilan pada hari ini. Sebagaimana mimpi Edison muda yang telah berhasil mengantarkan dunia ini memasuki era baru. Era yang terlepas dari kegelapan dan era munculnya karya-karya besar lain sebagai buah temuan pentingnya.

Begitu ajaibkah ‘dream’ atau mimpi bagi setiap orang? Dalam hal ini mimpi yang dimaksud adalah cita-cita besar, tujuan besar, dan hasrat yang senantiasa tertancap kuat dalam jiwa seseorang. Yaitu, cita-cita atau tujuan yang menjadi target untuk terus menerus diburu hingga dapat diraihnya. Mimpi itulah yang membuatnya tidak peduli meski harus menempuh jalan yang panjang lagi terjal, seberapa pun jauh dan seberapa pun besar kesulitannya. 

Dengan mimpi itu seseorang termotivasi untuk terus berusaha keras, bergelut dengan waktu dan tak lengah menangkap peluang. Dan dengan mimpi itu pula seseorang merancang jalan hidupnya, menentukan strategi dan mengatur langkah.  

Mimpi adalah langkah awal keajaiban

Dunia mimpi memang dunia imajinasi. Dunia yang terlukis hanya dengan detikan syaraf-syaraf otak. Akan tetapi justru dari mimpi inilah seseorang mulai melakukan sesuatu. Seorang pelukis tidak akan mungkin menorehkan goresan tinta pertamanya di atas kanvas sebelum bayangan abstrak terbentuk sempurna dalam benaknya. Bayangan atau imajinasi yang hendak dituangkannya tersebut merupakan bentuk mimpi sang penulis. Ketika gambar dalam benaknya telah terbentuk dengan kuat, maka tangannya pun akan semakin lincah menggoreskan warna demi warna membentuk sebuah lukisan.

Demikian juga dengan jalan hidup seseorang, apa yang akan teraih di masa mendatang pasti merupakan ujung dari sentuhan terakhir goresan lukisannya yang dimulai saat ini. Dan sukses di kemudian hari adalah visualisasi dari mimpi sukses yang telah dicanangkan jauh-jauh hari.

Mimpi adalah alasan tepat untuk terus bergairah

Apa yang terjadi seandainya seorang penjaga gawang cepat putus asa gara-gara jaringnya bergetar oleh bola lawan? Kemungkinan yang tarjadi adalah kekalahan demi kekalahan akan didapatkannya karena sudah patah arang dan tidak cermat lagi menjaga gawang. Kemungkinan berikutnya sang keeper akan digantikan orang lain yang lebih tekun dan bersemangat.

Jatuh bangun dan kegagalan dalam mengejar kesuksesan adalah hal yang biasa dalam sebuah proses. Karena kegagalan sangat mungkin terjadi akibat ketidaktepatan mengatur strategi, bukan dari kesalahan seseorang dalam merangkai ‘dreams’. Seorang penjaga gawang terbaik pun bukanlah goal keeper yang tak pernah kebobolan jaring gawang-nya. Tetapi tidak sekedar kemampuannya dalam menjaga gawang, ia juga seorang yang selalu memberikan usaha terbaiknya untuk menyelamatkan tim dari kekalahan. 

Hanya impian untuk menang di akhir pertandinganlah yang mendorong seorang penjaga gawang terus berjibaku menangkis bola-bola yang terlontar kepadanya. Sebagaimana sebuah ‘dream’ yang membuat seseorang terus bergairah menjalani jalan panjang perjuangan.

Mimpi merupakan energi yang menggerakkan

Mimpi ibarat bahan bakar. Ketika terus ‘terisi’ maka output yang terjadi adalah seseorang akan terus bergerak dalam mengejar kesuksesan demi kesuksesan. Ritme kenerjanya pun akan bertambah kencang pada saat ‘lukisan’nya semakin kuat dan tampak nyata. Tetapi sebaliknya, apabila tidak dijaga dengan baik maka lambat laun upaya yang dilakukan akan mengendur hingga bahkan hilang seiring hilangnya impian. Maka, jangan pernah surut untuk merenda impian!

Tak dapat dipungkiri jika ‘dream’ atau mimpi adalah bagian alamiah yang dimiliki setiap orang. Oleh karena itu, harus dimengerti bahwa mimpi yang ada dalam setiap diri seseorang adalah suatu modal yang sangat besar. Tanpa mimpi seseorang tidak akan menjadi manusia seutuhnya yang mampu berkembang dan menelurkan prestasi besar. Tanpa mimpi manusia akan mengalamai stagnasi peradaban. Dan tanpa mimpi manusia jauh dari keberhasilan dan kesuksesan.

March 7, 2007

Meledakkan Potensi

Filed under: Uncategorized

MELEDAKKAN POTENSI DIRI

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Setiap orang mengakui dan menyadari bahwa manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu manusia pun yang dilahirkan ke dunia ini dengan tanpa kemampuan dan kelebihan, meski tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki banyak kekurangan.

Tuhan menciptakan manusia penuh keadilan dan keseimbangan, walaupun sebagian kecil diantaranya ’seolah’ diciptakan dengan seribu satu cacat dan kekurangan. Hal itu hanya merupakan sarana pengingat bagi manusia lain yang tercipta dengan kelengkapan fisik agar bersyukur dan mau memberdayakan potensi ‘kesempurnaannya’ ke arah yang lebih baik. Banyak contoh yang bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mau mengambil kabaikan di dalamnya.

Tidak sedikit hidup ditengah masyarakat orang-orang yang cacat secara fisik tetapi mampu mandiri dan bahkan membuat prestasi yang terkadang melebihi orang normal kebanyakan. Diantara mereka ada yang berprestasi dan menjadi terkenal baik lewat seni, teknologi, atau karya-karya lain yang membuat hidup mereka terdongkrak dan lebih bermakna. Kelemahan tidak menghalangi mereka untuk berbuat lebih baik dan istimewa.

Wajah yang tidak ‘menjual’ karena tidak tampan atau tidak cantik juga tidak selalu menjadi kekurangan. Banyak entertainer yang kurang tampan dan kurang cantik tetapi meraih kesuksesan, baik dari sisi finansial maupun ketenaran. Karena sebagian kekurangan dari fisiknya justru menjadi aset rmiliaran rupiah.

Seringkali kita merasa bahwa diri kita adalah seorang yang tidak memiliki potensi apa-apa. Atau jika sedikit menyadari kalau ada sesuatu yang positif pada dirinya, terkadang merasa bahwa itu semua masih terlalu kecil untuk melejitkan diri menjadi seorang yang sukses. Apalagi untuk sampai kepada berlimpahnya kesenangan dan kekayaan. Sepertinya masih jauh sekali dan sangat tidak mungkin.

Belum lama ini kita dikejutkan kembali dengan bencana banjir yang ‘menenggelamkan’ Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Air bah menggelontor seakan tidak ada habisnya menggenangi hampir setiap sudut kota. Arus transportasi dan denyut perekonomian macet total. Perkantoran dan perusahaan pun sebagian besar tutup. Disamping itu, dibeberapa tempat listrik dan sambungan telepon pun mati. Tak pelak kerugian materi melayang luar biasa besarnya.

Alam selalu menunjukkan inspirasi yang luar biasa. Bukan kepada persoalan banjirnya, apalagi imbas kerusakannya. Tetapi coba perhatikan di atas sana. Terbentang langit biru yang demikian luas tanpa penopang, yang tersusun atas lapisan-lapisan. Lalu apa kaitannya antara langit biru dan banjir bandang? Memangnya ada apa dengan langit?

Jutaan galon air yang menggenangi Jakarta hingga menutupi atap rumah di titik-titik tertentu itu tidak lah datang secara tiba-tiba. Air tersebut juga tidak datang sekonyong-konyong menyembur dari dalam bumi. Apalagi keluar dari lereng-lereng gunung dalam jumlah sebanyak itu. Akan tetapi, air itu merupakan kumpulan rintik hujan yang mengguyur daratan. Dan tetes air hujan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah berasal dari langit.

Bisakah dibayangkan seandainya, jutaan galon air yang menggenangi Jakarta beberapa saat lalu itu dalam bentuk fisiknya yang sama dengan genangan air banjir melayang-layang di udara? Atau bagaimana seandainya hujan turun tidak dalam wujud rintik air yang jatuh satu demi satu tetapi bagai air terjun yang jatuh dari langit? Dapat dipastikan akan timbul puluhan ribuan korban terkapar dan kerusakan bangunan-bangunan

Air bah di atas hanyalah berawal dari kumpulan partikel air yang menguap ke atmosfir bumi oleh terik matahari Melayang-layang dengan ringannya.Jutaan triliun partikel itu oleh proses kondensasi alami menyatu satu dengan yang lainnya. Bergerak dalam bentuk awan yang bergumpal-gumpal dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga pada satu kondisi tertentu jatuhlah kumpulan awan itu ke bumi dalam bentuk rintik hujan. Suatu proses yang demikian sederhana, akan tetapi sedikit orang mampu menangkap pesan eksplisit yang luar biasa. Kenapa tidak belajar dari kisah banjir dan langit diatas?

Partikel air yang menguap dan melayang-layang di udara itu ibarat potensi yang ada dalam diri kita. Sangat kasat mata dan sulit kita sadari keberadaannya. Hal ini menyebabkan lemahnya kemauan seseorang untuk mengolah apa yang dimilikinya menjadi jalan meraih keberhasilan. Apalagi agar lebih dari itu, yaitu mencapai kelimpahan kekayaan dan kesuksesan. Sepertinya sesuatu yang sangat tidak mungkin. Karena mereka menganggap bahwa apa yang dimilikinya tidaklah berarti dan tidak mencukupi untuk melakukan ledakan kesuksesan.

Bukankah partikel air yang demikian kecil mampu mendatangkan banjir bandang? Sungguh alam telah memberi inspirasi bagaimana meledakkan potensinya. Oleh karena itu, kita hanya perlu menggali dan berfikir apa yang harus dilakukan untuk dapat meledakkan potensi diri kita? Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut:

1. Mulailah dengan Mengenali Potensi Diri.

Mulailah mengenali kelebihan positif yang ada dalam diri. Sekecil apapun itu adalah aset yang sangat bernilai buat kita. Apalagi, kita harus meyakini bahwa potensi yang sesungguhnya kita miliki jauh lebih banyak dari apa yang kita sadari. Oleh karena itu, kelebihan yang kita sadari hendaknya bisa menjadi pembuka bagi potensi-potensi lain yang masih berserakan.

2. Mulailah Mengasah dan Menata Potensi.

Jangan ragu untuk mulai melakukan tindakan besar dari apa yang kita miliki. Seekor anak kucing yang baru dilahirkan pun tak pernah surut me-’ngeong’ dengan mulut yang dimilikinya. Ia juga tak pernah patah semangat untuk mulai terus merangkak dengan kaki dan cakar mungilnya. Begitu pula seekor anak unta yang sudah mulai bisa berjalan di hari pertama kelahirannya. Rasanya terlalu berlebihan jika seorang manusia yang dibekali dengan akal dan pikiran terlalu cepat menyerah.

Potensi yang ada memang harus kita tata dengan baik. Sebab, seberapa besar yang bisa kita perbuat tergantung dari kerapian menata potensi diri. Kita perlu mempersiapkan alat bantu untuk mulai langkah pertama memberdayakan potensi kita ke ranah publik. Dengan penataan yang optimal, yakinlah bahwa kemampuan diri kita akan diakui dan diterima oleh orang lain. 

3. Mengatur Strategi Pemberdayaan.

Kita tidak perlu menunggu sampai memiliki mobil untuk dapat menaiki mobil. Dan kita pun tidak harus menjadi kaya terlebih dahulu untuk memulai usaha. Karena yang kita perlukan adalah mengatur strategi memberdayakan potensi yang kita miliki.

Menyinggung kisah hujan di atas, proses turunnya rintik hujan ke bumi pun dapat kita ‘maknai’ sebagai sebuah strategi. Air hujan turun ke bumi dalam rupa rintik-rintik air yang sangat banyak, merata, dan secara ‘bertubi-tubi’ serta berkesinambungan. Bukan dalam bentuk aliran air sebagaimana air terjun yang deras meluncur dari ketinggian. Atmosfir perlu energi yang sangat besar untuk mendorong terjadinya proses kondensasi alamiah dari partikel air menjadi butiran air. Apalagi untuk menjadi aliran air seperti aliran air di sungai, tentu butuh waktu yang sangat lama dan barangkali ‘tidak mungkin’.

Maka, kita pun dapat memahaminya dengan pelajaran yang sama. Kita dapat memberdayakan potensi kita dengan apa yang benar-benar dapat dan mampu kita lakukan. Tidak mengapa dari hal-hal yang kecil asalkan konsisten dan terus menerus. Karena lantai ke-100 tak akan mungkin ada tanpa lantai pertama.

4. Mengembangkan Lintas Potensi

Keberhasilan-keberhasilan kecil yang dapat dengan mudah kita raih, sudah barang tentu akan membuat kita lebih percaya diri dan menjadi lebih yakin untuk melakukan aksi yang lebih besar. Di lain hal, kita juga akan semakin mudah membaca potensi-potensi kita yang lain. Sebagaimana langkah awal, maka kita dapat mengasah dan mengoptimalkan hal-hal positif yang kian kita sadari ada pada diri kita. Dan bukan tidak mungkin, kesuksesan-kesuksesan yang lain pun akan dapat kita raih. 

5. Melakukan Sinergi Dahsyat 

Ini adalah langkah klimaks untuk menentukan langkah besar. Hanya dengan langkah besar saja tujuan besar dapat kita raih. Tidak sedikit kisah sukses seseorang tertopang oleh keberhasilan-keberhasilannya dalam beragam bidang. Seorang entertainer kondang dengan keseriusannya dapat sukses membuka usaha resoran. Atau seorang pemilik usaha bakso dapat untung besar karena berhasil menulis buku fenomenal.

Selalu ada nilai positif ketika dapat menggabungkan potensi dan kelebihan yang kita miliki. Sebagaimana 2 orang akan lebih baik dari satu orang, dan 5 orang akan lebih baik dari 3 orang. Maka harus yakin bahwa sinergi dari ragam kemampuan yang kita punyai akan menjadi ledakan dahsyat. 

Dari ulasan di atas dapat ditemukan benang merahnya. Bahwa ledakan kesuksesan hanyalah merupakan salah satu klimaks tangga keberhasilan yang dapat kita raih ketika dapat men-sinergikan semaksimal mungkin potensi-potensi yang kita miliki. Dan ledakkan kesuksesan tidak mungkin dapat kita raih tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meledakkan segenap potensi diri. Oleh karena itu, segeralah mengatur langkah untuk memulai langkah pertama meledakkan potensi!

February 16, 2007

Mengelola Rutinitas

Filed under: Uncategorized

MENGELOLA RUTINITAS MENJADI POTENSI KESUKSESAN

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 

Rutinitas tidaklah sama persis dengan ketekunan, tetapi rutinitas tidak juga sama dengan monoton. Pada hakekatnya rutinitas adalah sebuah aktivitas yang dilakukan berulangkali dalam tempo yang cukup panjang. Rutinitas acapkali menjadi momok yang seolah tidak dapat kita hindari dan terpecahkan, karenanya mesti diarahkan agar dapat menjadi sebuah potensi besar untuk menata kesuksesan.

Rutinitas harus dipahami sebagai suatu proses yang tidak mungkin ditinggalkan. Sebab rutinitas sebenarnya adalah rangkaian kebutuhan, kepentingan, sarana pematangan dan jalan optimalisasi kemampuan untuk meraih apa saja yang kita inginkan. Sehinggaa,rutinitas harus dijadikan sebagai sebuah tantangan yang harus kita kendalikan. Oleh karena itu, bagaimana langkah kita mengelola rutinitas agar menjadi sebuah potensi besar untuk meraih tangga kesuksesan? Berikut ini adalah beberapa tips yang tepat untuk dijalankan:

1. Menentukan target akhir 

Baik perorangan maupun kelompok, dalam kehidupan ini harus memiliki tujuan akhir yang besar. Tujuan yang membuat tiap orang memiliki ‘nafsu’ untuk tetap hidup dan berkembang, memiliki motivasi yang menjadikannya siap berjibaku dengan rintangan, dan memiliki spirit untuk mendobrak kepenatan serta gejala keputusasaan.

Sebuah teori mengatakan ‘thinking begin in the end’ atau berfikirlah mulai dari titik akhir, maka Anda sedang melangkah di jalan yang tepat. Dalam sebuah perjalanan jauh, sangat berbeda antara orang yang sudah punya tujuan akhir kepergiannya "Saya akan pergi ke Danau Toba di Medan" dibandingkan dengan orang yang baru sampai pada "Saya akan melakukan perjalanan jauh".

Bagi orang yang sudah menetapkan tujuan akhir meski berbagai rintangan menghadang di tengah jalan, maka instingnya akan terus mendorong untuk menemukan jalan keluar. Ketika hujan, akan sedia payung. Atau seandainya jembatan yang harus dilaluinya putus, maka akan berbelok mencari jalan alternatif. Atau seandainya tersesat, dia akan terus mencari jalan menuju tempat yang dituju. Dan dirinya tidak bosan-bosan duduk lama di depan kemudi menarik gas, menginjak rem dan memutar stir kekanan dan kekiri.

Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki tujuan, maka sedikit kerikil saja akan membuat dirinya mengurungkan niat melangkah maju. 

2. Menbuat schedule dengan target-target antara

Coba bayangkan seandainya Anda mencukupkan diri duduk termangu di atas kursi menunggu sore hari. Kemudian Anda juga melakukan hal yang sama untuk menanti pagi hari, sementara hari pernikahan Anda masih 3 pekan lagi? Sedangkan Anda sedikitpun tidak melakukan tindakan yang berarti. Padahal Anda juga belum melakukan persiapan apa pun. Tentu hari yang dinanti-nanti hanya akan menjadi mimpi buruk yang tak pernah dapat Anda maafkan.

Naluri alamiah kita sudah memberikan tuntunan, bahwa banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyongsong hari pernikahan yang sukses dan bersejarah. Ada undangan yang harus segera selesai 2 pekan sebelum hari-H, dan harus tersebar maksimal 1 pekan sebelum hari-H. Harus ada cincin kawin yang harus sudah disiapkan untuk mempelai wanita pada saat pengucapan janji di depan saksi, dan lain-lain.

Ilustrasi sederhana di atas sesungguhnya adalah sebuah rangkaian target-target kecil yang harus dilakukan untuk menuju tujuan akhir yang besar. Jika tidak, maka jangan harap tujuan besar yang kita inginkan akan dapat diraih.

3. Membuat ornamentasi aktivitas

Harus disadari bahwa hari ini tidak akan mungkin sama persis dengan hari kemarin. Juga hari esok tidak akan mungkin akan sama persis dengan hari ini. Jutaan orang yang hidup pada masa sekarang ini tidak ada satupun yang sama persis dengan orang-orang yang pernah hidup di masa lalu.

Alam saja memberikan sebuah contoh yang mestinya bisa kita maknai. Alam menjalani waktu yang sama dengan manusia, melalui siang dan malam selama 24 jam sehari. Dan alam ini sudah menjalani rutinitas itu sejak awal keradaannya. Tapi, perhatikanlah! Sekali waktu alam menghiasi dirinya dengan hujan, di waktu yang lain dengan sinar matahari yang sangat terik, bahkan sekali waktu dengan letusan gunung berapi, topan, badai, dan bahkan banjir bandang. Kemudian alam pun menampakkan keindahannya sebagaimana kita lihat pada hari ini.

Maka kita perlu menghias rutinitas kita dengan sesuatu yang menarik, yang membuat kita terus bersemangat dan memiliki ambisi. Mungkin sekali waktu dengan berangkat ke tempat pekerjaan lebih pagi dari biasanya? Atau dengan mengganti foto keluarga diatas meja kerja Anda? Atau coba Anda pampang besar-besar tulisan mimpi-mimpi besar yang ingin Anda raih di tahun in? Atau apa saja karena rutinitas tidaklah sama dengan monoton. 

4. Melakukan evaluasi berkala

Evaluasi mutlak diperlukan. Karena jalan yang kita lalui tidak selamanya mulus. Banyak aral melintang yang harus cepat disikapi dan ditemukan solusinya. Dengan cara mengevaluasi juga membuat kita waspada untuk tidak melakukan kesalahan berulangkali.

Disamping itu, kekurangan-kekurangan yang ditemukan harus menjadi bahan perumusan untuk melakukan tindakan berikutnya. Sehingga rutinitas yang dilalui menjadi hidup dan mengarah kepada apa yang diinginkan. 

5. Melangkah dari sisi lain

Ketika sebuah ballpoint disodorkan kehadapan Anda, dan kemudian Anda diminta untuk menulis sebuah cerita, maka karena terbiasa menulis dengan tangan kanan, yang Anda lakukan adalah langsung memainkan ballpoint itu dengan tangan kanan Anda. Saat permintaan kedua muncul "Tulislah cerita itu dengan tangan kiri Anda!", seketika Anda akan berhenti dan mengatakan "itu sesuatu yang tidak mungkin!".
 
Kita tidak menyadari bahwa diluar sana banyak orang yang telah melakukan suatu pekerjaan yang kita anggap tidak mungkin. Dan justru bagi mereka itu adalah hal biasa yang sama sekali tidak istimewa. Maka tidak ada salahnya jika kita mencoba melalui rutinitas kita dasi sisi yang lain.
 
Dari beberapa tips diatas tentu kita menyadari bahwa rutinitas adalah suatu keniscayaan yang mau tidak mau harus kita lalui. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengendalikannya agar menjadi potensi besar untuk mencapai sukses..  

February 15, 2007

Sudut Rutinitas

Filed under: Uncategorized

SUDUT PANDANG TENTANG RUTINITAS 

By. Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

Sebagian besar orang beranggapan bahwa rutinitas merupakan penyebab kejenuhan, penyebab menurunnya spirit, penyebab kebosanan, atau penyebab-penyebab lain yang bermuara kepada sesuatu yang negatif. Dimana pada akhirnya rutinitas akan menggiring pelakunya kepada situasi ke-tidak-produktif-an.

Asumsi ini bisa jadi benar, tetapi juga bisa jadi tidak benar. Mengapa? Seorang pekerja sebuah perusahaan yang telah menjalani masa kerja selama 20 tahun umumnya berbeda spirit dengan pekerja yang baru 3 atau 5 tahun. Kualitas kerja di lapangan pun akan tampak berbeda, pekerja yang jauh lebih lama bekerja besar kemungkinan melakukan pekerjaannya dengan agak ‘ogah-ogahan’ karena kejenuhan yang tak tertahankan. Sehingga dikatakan bahwa rutinitas yang demikian lama akan menjadi penyebab utama timbulnya ke-tidak-produktif-an.

Mari kita belajar dari alam semesta beserta segala isinya. Perhatikan bagaimana bumi berotasi mengelilingi matahari. Dimana dalam bahasa awam kita, setiap pagi matahari akan terbit diufuk timur dan kemudian tenggelam di ufuk barat sore harinya. Hal ini berlangsung sekian lama semenjak tata surya ini ada hingga waktu yang tak pernah kita tahu kapan akan berakhir. Lalu bagaimana seandainya sekali waktu matahari terbit dari ufuk timur dan kembali tenggelam di ufuk timur juga? Atau jika matahari terbit dari barat dan tenggelam di sebelah selatan?

Di bagian dua polar bumi, baik kutub utara maupun selatan, terdapat kawanan burung yang setiap setengah tahun sekali melakukan perjalanan panjang dari kutub utara menuju kutub selatan atau sebaliknya. padahal yang harus mereka lalui adalah jarak ribuan kilometer dan samudera yang demikian luas. Perjalanan itu dilakukan hanya untuk menghindari musim dingin yang mencekam dan menuju kutub lain yang berhawa hangat karena musim panas. Demi bertahan hidup. Lalu pertanyaannya, mengapa burung-burung itu tidak singgah saja di daratan tropis, berdiam disana dan menjalani hidup baru? Sehingga tidak perlu lagi secara rutin melintasi daratan dan lautan ribuan kilometer dari utara ke selatan ataupun sebaliknya?

Diri kita pun bisa menjadi pelajaran yang baik dalam hal ini. Dua hal yang tidak pernah kita tinggalkan dan kita pun melakukannya dengan senang hati adalah tentang tidur dan makan-minum. Sejak pertama kali kelahiran kita di muka bumi ini, manusia tidak pernah merasa bosan melakukan dua aktivitas ini. Bahkan banyak hal yang rela dikorbankan demi tidur dan makan-minum. Jika saja 2 pekan seseorang tidak melakukan tidur ataupun makan dan minum, maka sudah dipastikan apa yang akan terjadi. 

Jika melihat beberapa contoh diatas, maka sepertinya rutinitas justru menjadi sebuah keharusan. Sebab, jika rutinitas terganggu dan terjadi penyimpangan maka akan menjurus kepada kerusakan bahkan kehancuran. Oleh karena itu, agar kita bisa mengambil sikap yang tepat terkait rutinitas, kita harus memiliki cara pandang yang benar tentang rutinitas. Berikut ini adalah cara pandang yang tepat tentang sebuah rutinitas,

1. Rutinitas sebagai sebuah kebutuhan

Sebagaimana kita membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup sekaligus untuk melanjutkan kehidupan. Melakukan beragam pekerjaan dengan stamina yang fit untuk meraih kesuksesan demi kesukssan. Juga seperti kebutuhan kita tentang tidur, mengistirahatkan sendi-sendi, mengumpulkan energi dan menghilangkan keruwetan otak yang demikian penat.

Bukankah sama halnya kita butuh terus mengais rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Demikian juga dengan butuhnya kita terhadap kehadiran para pegawai kita untuk mengerjakan siklus bisnis yang kita jalankan. Ini pula yang dilakukan para sopir angkot atau metromini yang mesti bolak-balik melalui jalan yang sama setiap hari demi mendapatkan uang.

2. Rutinitas sebagai alat mencapai tujuan

Apa yang membuat kita rela mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anak dari usia dini hingga perguruan tinggi? Bukan waktu yang tidak sebentar menghitung usia belajar mulai dari palygroup hingga selesai kuliah. Paling tidak antara 16 - 23 tahun. Bayangkan! Itu pun pernah kita jalani. Meski rasa malas dan jenuh berseliweran terlintas di benak kita, tetapi ada satu tujuan besar yang membuat kita semangat dan terus bertahan. 

3. Rutinitas sebagai sarana pematangan

Seorang calon pemimpin baik di sebuah perusahaan maupun suatu organisasi, sering kali diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat secara rutin oleh atasan atau seniornya. Untuk menguji ketahanan dan kemampuannya mengelola keadaan. Tidaklah mungkin seseorang yang piawai dibidang tertentu muncul begitu saja sekonyong-konyong tanpa melalui terlebih dahulu proses yang panjang. Peneliti, profesor, dokter, dan profesi apapun tidak akan mencapai tingkat kematangan atau keahlian tanpa proses rutin yang harus dijalaninya. 

4. Rutinitas sebagai sarana optimalisasi

Seorang Ronaldo, atau Ronaldhino adalah para pemain terbaik yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya ‘mengocek’ bola dan mencetak gol. Demikian juga Beckham dan Zidane. Akan tetapi, kenapa para pelatih dan pemain bola tidak pernah berhanti berlatih untuk menghadapi pertandingan-pertandingan? Bukankah mereka para pemain bola tersohor?

Jawabannya adalah bahwa rutinitas latihan yang mereka lakukan adalah dalam rangka mengoptimalkan potensi dan keahlian agar dapat melakukan yang terbaik dalam sebuah pekerjaan besar. 

Ternyata tidak sepenuhnya benar jika rutinitas adalah penyebab utama ketidak-produktifan, bahkan jika ditelaah lebih mendalam, ada kekuatan besar dibalik rutinitas. Rutinitas salah satu syarat meraih kesuksesan.

Lalu bagaimana mengelola rutinitas? Nantikan kajian berikutnya.

Kamis, 15 Februari 2007 

February 8, 2007

Metamorfosa

Filed under: Uncategorized

PERUBAHAN ADALAH SEBUAH KENISCAYAAN

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)

 
Kehidupan senantiasa berubah dan silih berganti. Semenjak penciptaannya, alam semesta beserta segala isinya selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Teori ledakan besar ‘big bang’ yang menjadi awal mula jagat raya ini, tentu jauh berbeda kondisinya saat ini dengan ketika awal penciptaanya. Hijau dan suburnya bumi ini tentu tidak sama ketika ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu mengalami kegersangan. Ya, alam memberikan pelajaran tentang perubahan. Perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Manusia mestinya juga bisa belajar dari dirinya sendiri. Metamorfosa seorang manusia dari setetes air yang hina menjadi janin, kemudian datang ke alam fana ini sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil yang riang, lalu tumbuh memasuki usia remaja hingga menjadi dewasa dan tua, adalah contoh lain sebuah perubahan.

Namun, yang terpenting untuk menjadi pemahaman yakni bahwa perubahan adalah sebuah proses kehidupan itu sendiri. Hanya mereka yang mau dan siap berubah saja yang akan menjadi ‘petarung’ tangguh dalam kehidupan ini. Sedangkan yang tidak siap melakukan perubahan, maka hanya akan menjadi ‘pecundang’ dan mati tergilas kehidupan.

Berubah menjadi lebih baik, lebih, kuat, atau lebih sukses sudah barang tentu memerlukan proses dan perjuangan. Keberhasilan tidak datang kepada para pemalas dan pemuja angan-angan yang tidak pernah berusaha untuk menggapainya. Keberhasilan juga tidak datang kepada penikmat kemudahan yang bodoh, bahkan keberhasilan tidak akan menghampiri para pecundang dan siapa saja yang mudah putus asa. Karena keberhasilan dan kesuksesan memiliki cara tersendiri untuk datang kepada para pemiliknya.

Satu kisah metamorfosa berikut ini sungguh sangat luar biasa untuk menjadi pelajaran bagi ‘petarung-petarung’ kehidupan yang tangguh;

Suatu hari, muncul celah kecil pada sebuah kepompong. Seorang anak muda berada didekatnya dan memperhatikan detik demi detik calon kupu-kupu kecil itu berjuang keras untuk keluar dari celah tersebut. Sudah berjam-jam lamanya celah itu hanya bergerak sedikit demi sedikit, sampai kemudian tampak terhenti. Sepertinya usaha tersebut sia-sia belaka dan seolah usahanya gagal dan tak mungkin berhasil.

Anak muda itu tertegun, dan akhirnya memutuskan untuk membantu membongkar kepompong tersebut. keluarlah kupu-kupu kecil dengan mudah darinya. Namun, apa yang terjadi? Tubuh kupu-kupu itu kecil dan sayapnya tidak mengembang dan kurang sempurna. Anak muda itu diam dan terus memperhatikan, berharap bahwa sebentar lagi sayap tersebut akan terbuka, membesar, dan berkembang menjadi sayap yang kuat yang dapat membawa tubuhnya sendiri terbang mengarungi dunianya yang baru. 

Akan tetapi, apa yang diharapkan anak muda itu tidak kunjung datang. Sayap itu tetap lemah dan tidak mengembang hingga akhirnya kupu-kupu tersebut menghabiskan hidupnya dengan merayap dan lemah. 

Kehidupan dan perubahan membutuhkan perjuangan, seekor kupu-kupu secara alamiah tidak pernah lelah dan putus asa untuk merobek kepompong yang menghalanginya dari dunia luar. Namun, sungguh bahwa upaya keras dan panjangnya itu adalah sebuah proses untuk dirinya menjadi lebih matang, kuat dan tangguh. Untuk melanglang buana menjalani kehidupan berikutnya yang penuh kesempatan.

Demikian pula dengan kita, manusia. Jika diresapi lebih mendalam, maka segala tantangan dan ujian hidup hanya lah sebuah jalan menuju kematangan dan kesiapan meraih keberhasilan. Mengapa tidak mencoba untuk berfikir, bahwa awal-mula kehidupan setiap manusia dimulai dengan pertarungan. Dan kita adalah sosok petarung tangguh dan pemenang itu. Karena setiap manusia tumbuh dari benih pilihan yang unggul dan telah mengalahkan ribuan bahkan jutaan sperma lainnya. Bukankah kita telah dilahirkan sebagai ‘petarung’ yang tangguh?

Karenanya, keyakinan dan perubahan adalah jalan meraih keberhasilan dan kehidupan yang lebih baik bagi para petarung sejati. Saatnya memulai untuk ber-metamorfosa!

Menjadi Lumut

Filed under: Uncategorized

TIDAK SEKEDAR SUKSES SEBATANG KARA

Oleh: Risyanto Aris (Life Skill Motivator)

 
Perhatikan disekeliling kita. Jika diminta untuk menyebutkan satu per satu benda apa saja yang kita lihat, maka akan berderet daftar sebutan benda tersebut. Dari mulai bangunan rumah, jalan aspal, bebatuan dipinggir jalan, abang penjual sayur, atau tanaman hias dan indah serta pepohonan yang rindang.

Apakah dihalaman rumah Anda tertanam pohon mangga? Atau pohon rambutan? Atau pohon yang lainnya? Apakah Anda menanamnya sejak pohon itu masih kecil, atau bahkan saat pohon-pohon tersebut masih berbentuk biji? lalu bagaimana mereka tumbuh dan berkembang? Apa yang Anda lakukan agar mereka tumbuh dengan dengan baik?

Pertanyaan beruntun ini belum juga selesai, masih ada pertanyaan lanjutan untuk menjelaskan tentang satu perkara besar yang sangat penting bagi kita. Pertanyaan selanjutnya, apa yang terjadi seandainya biji pohon itu anda biarkan teronggok diatas halaman yang dicor atau permanen? Atau jika biji itu Anda lempar ditengah jalan aspal. Apakah masih tetap akan hidup dan tumbuh?

Pertanyaan yang lebih ekstrim diantaranya ialah, seandainya pun biji itu sudah tumbuh menjadi pohon, apakah dia bisa bertahan hidup jika ditempatkan dipuncak pegunungan, atau didalam gua, diatas bebatuan cadas, atau mungkin di dalam lautan? Atau minimal ditanah yang gersang dan sedikit meminum air?

Secara sederhana kita bisa memberi konklusi atau simpulan bahwa pohon-pohon itu cepat atau lambat akan mati. Sebab mereka tidak hanya sekedar membutuhkan air atau sinar matahari yang cukup, tetapi mereka juga membutuhkan tempat hidup yang subur dan kondusif. Sehingga jika tempat hidup menjadi tidak sesuai lagi, maka layu dan kemudian mati tinggal menunggu waktu saja. 

Sekarang, kita masuk pada segmen pembahasan yang kedua. Yaitu tentang lumut. Dimana lumut juga termasuk salah satu keluarga tumbuhan, meski dari ratusan spesiesnya, hampir tidak ada yang melebihi ketinggian 10 cm.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor penting kenapa kita mesti membahas lumut setelah menguraikan tentang ‘pohon mangga’. Meski lumut memiliki bentuk tubuh yang kecil dan tak ’segagah’ pepohonan yang berada diatas ‘kelas’nya, tetapi dalam proses kehidupan lumut menjadi satu faktor penentu yang sangat signifikan. Apakah kita memperhatikan bahwa tumbuhan sederhana ini merupakan ‘cikal-bakal’ kehidupan? Silahkan buka kembali pelajaran biologi kita di sekolah dulu.

Beberapa ciri penting yang dimiliki lumut adalah, bahwa ia dapat hidup dan berkembang dimana-mana. Mulai dari pegunungan yang dingin, sungai yang berkelok, dinding yang permanen, lantai yang berkeramik, atau dalam lautan yang dalam. Bahkan sekeras apapun bebatuan, lumut bisa hidup dan tumbuh diatasnya.

Yang kedua, dengan kondisi sesulit apa pun lumut masih mampu bertahan. Dari mulai kekurangan sinar matahari, kekurangan air, atau pun kekurangan ‘nutrisi’. Hingga dinding-dinding kamar mandi rumah kita yang terlapis keramik saja masih bisa ditumbuhi lumut.

Ketiga adalah, proses hidup lumut memberikan dampak besar bagi kehidupan yang lain. Bumi yang kita diami ini adalah sebuah bebatuan super keras yang pejal diawal pembentukannya. Kemudian lumut yang mendiaminya, meremuknya, dan menjadikannya subur yang pada akhirnya tumbuh pepohonan dan makhluk hidup lainnya.

Paling tidak, tiga hal mendasar inilah yang perlu dijadikan pelajaran bagi kita. Bahwa dalam hidup ini kita perlu cerdas beradaptasi dengan beragam ekosistem kehidupan kita. Karena seringkali kita dituntut untuk melalui ekosistem demi ekosistem yang demikian beragam dan kontras dalam proses hidup ini. Terkadang hal ini disebabkan oleh siklus yang kita rancang atau kesulitan kondisi yang menjepit.

Berikutnya, kita mesti menjadi sosok yang mampu survive dengan segala keterbatasan. Karena lingkungan hidup kita tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, baik karena tidak mampu mendapatkannya atau karena ketiadaan apa yang diinginkan. 

Dan, dalam hidup ini mestinya kita bisa menjadi manusia yang mampu menebar manfaat bagi orang lain. Karena kesulitan apa pun yang kita hadapi sekali waktu orang lain juga mengalaminya. Bahkan tidak sedikit yang jauh lebih buruk dari kita. Atau keberhasilan yang kita peroleh, akan lebih bernilai jika itu menjadi faktor penyebab keberhasilan bagi orang lain. Bukankah menjadi satu kepuasan jiwa jika banyak orang lain sukses lantaran peran kita? Karena keberhasilan ‘bersama’ akan lebih indah dibanding keberhasilan sebatang kara.

Rabu, 31 Januari 2007






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer